Category Archives: Info Hangat

Tewas Usai Tenggak Miras Selama Dua Hari, Asep dan Dede Pesta Miras di Kuburan

Bandung – Dede Nurdin (31) dan Asep (40), warga Kelurahan Batununggal, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, tewas diduga usai menenggak minuman keras oplosan. Sementara salah seorang korban lainnya, Ahe Komarudin (40), masih dirawat di RSHS.

Selama dua hari, ketiganya asyik menikmati miras di kuburan yang tak jauh dari lokasi rumah mereka. “Awalnya mereka minum-minum di kuburan dekat rumah. Itu dilakukan dua hari berturut-turut sejak hari Minggu kemarin (16/5/2010),” jelas adik Dede yaitu Syarifudin (18), saat ditemui wartawan di kediamannya, Selasa (18/5/2010).

Syarifudin mengatakan, kakaknya kemarin, Senin (17/5/2010), masih terlihat biasa saja. Namun saat malamnya Dede muntah-muntah. “Si Aa tambah parah waktu subuh tadi. Lalu sama keluarga dibawa ke RSHS. Aa meninggal dalam perjalanan,” paparnya.

Jenazah Dede dimakamkan di TPU di daerahnya. Sementara itu, Asep meninggal di salah satu rumah sakit di Cimahi, Selasa (18/5/2010) pagi, setelah sebelumnya mendapat perawatan. Siang tadi, jenazah Asep diboyong keluarganya dan dimakamkan tak jauh dari rumahnya.

Kapolres Bandung Timur AKP Victor Manoppo sudah mengetahui dua warga di Kecamatan Bandung Kidul meninggal diduga menenggak miras. “Untuk mengetahui pasti penyebabnya, kami masih melakukan penyelidikan,” singkatnya.

(detik.com)

TANPA PAJAK, NEGARA BISA MENSEJAHTERAKAN RAKYAT

KASUS mafia pajak yang dilakukan mantan pegawai Ditjen Pajak, Gayus Halomoan Tambunan, tampaknya masih akan terus bergulir ke mana-mana. Apalagi Gayus mengaku bahwa ia hanyalah makelar kasus (markus) pajak kelas teri. Menurut Kordinator Transparency International Indonesia (TII), Teten Masduki, “Pengakuan Gayus menguatkan indikasi bahwa apa yang ia lakukan memang hal yang lumrah dilakukan para pegawai pajak.” (Metronews.com, 27/3/2010).

Mencuatnya gejala markus pajak tentu membuat geram banyak kalangan, khususnya mereka yang selama ini mengaku taat pajak. Bahkan sampai muncul gerakan untuk memboikot pajak alias menolak bayar pajak melalui jejaring dunia maya, facebook (Antaranews.com, 29/3/2010).

Gerakan boikot pajak tentu mudah dipahami. Pasalnya, selama ini dengan berbagai cara Pemerintah gencar mendorong masyarakat untuk taat membayar pajak. Pemerintah antara lain selalu menekankan, tanpa pajak pembangunan tidak akan bisa berjalan. Jika pembangunan tak berjalan, Pemerintah tentu tak bisa mensejahterakan rakyat. Faktanya, pos penerimaan APBN dari sektor pajak memang selalu menempati posisi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir ini, mencapai 75-80 persen dari total penerimaan APBN. Continue reading

MENYAMBUT PENGUASA NEGARA PENJAJAH: MENGKHIANATI ALLAH, RASUL-NYA, ISLAM, DAN KAUM MUSLIM

Umat Islam saat ini dihadapkan pada persoalan kenegaraan yang sangat sulit, yaitu rencana kedatangan Obama bulan Maret ini. Sekiranya Obama seorang warga negara biasa tentu tidak akan melahirkan pro-kontra di tengah mayoritas umat Islam Indonesia. Masalahnya, sosok Obama tidak bisa dilepaskan dari kedudukannya sebagai pemimpin dari negara Amerika Serikat (AS). Dunia saat ini melek betul, AS telah banyak menciptakan tragedi kemanusian di berbagai belahan negeri Dunia Islam, baik dalam bentuk penjajahan militer ataupun penjajahan politik, ekonomi dan budaya. Continue reading

NIKAH YANG SAH DIPERSOALKAN PERZINAAN DIBIARKAN

Saat ini, RUU HMPA Bidang Perkawinan sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2010 di DPR. Kemunculan RUU ini telah mengundang pro-kontra. Pasalnya, dalam RUU tersebut nyata-nyata terkandung klausul pemidanaan (kriminalisasi) bagi pelaku nikah siri, poligami dan nikah kontrak; mereka bisa diancam hukuman penjara maksimal 3 bulan dan denda 5 juta rupiah. Mereka yang pro (setuju), misalnya, adalah Ketua Mahkamah Konsitusi (MK) Mahfud MD. Alasannya, ia meyakini pernikahan bawah tangan (nikah siri) dan kawin kontrak merugikan pihak perempuan. (Jambi-independent.co.id, 15/2/10).

Sebelumnya, Ketua MUI KH Ma’ruf Amin menyatakan, “Nikah di bawah Continue reading

TERORISME KEMBALI MENCUAT, UMAT HARUS WASPADA!

Isu terorisme mencuat lagi. Isu ini muncul ke permukaan sejak media memberitakan upaya penggerebekan kelompok bersenjata yang tengah mengadakan latihan militer di Pegunungan Jalin, Jantho, Aceh Besar, yang diduga berlangsung sejak September tahun lalu. Penggerebekan dilakukan pada Senin malam, 22 Februari 2010 lalu, hingga akhirnya pecah kontak tembak pada Kamis. Korban pun berjatuhan di pihak polisi dan Kelompok Jalin. Masyarakat sipil juga menjadi korban dalam peristiwa ini (Acehkita.com,8/3).

Kepolisian segera menyebut Kelompok Jalin ini sebagai teroris yang tergabung dalam jaringan Jamaah Islamiyah. Menurut pihak Kepolisian, ditemukan beberapa barang dengan simbol-simbol Islam (misal: buku-buku Islam, atribut pakaian koko, dsb) yang diduga milik kelompok tersebut, dan beberapa orang dari luar Aceh yang terlibat juga tertangkap.

Media juga dengan mudah menghakimi bahwa ini adalah kelompok teroris. Media seolah menemukan kembali saat yang tepat untuk kembali membuat narasi (cerita) agar isu terorisme bisa diterima oleh masyarakat dan menjadi payung moral bagi setiap langkah penanganan oleh pihak Kepolisian.

Para pengamat pun tidak mau ketinggalan; ikut menabuh genderang dengan ‘analisis’ yang tak jarang sangat prematur—hanya berdasarkan sangkaan semata. Mereka lalu bersepakat bahwa kelompok ini terkait dengan jaringan Jamaah Islamiyah bahkan al-Qaidah, kemudian menyebutkan tentang adanya potensi ancaman atas keamanan Indonesia, bahkan di wilayah Selat Malaka.

Dugaan Rekayasa

Tentu bagi masyarakat Aceh istilah teroris adalah ganjil, karena dalam kamus sejarah Aceh tidak pernah dikenal istilah tersebut. Karena itu, kasus ini melahirkan tanda tanya masyarakat. Komite Peralihan Aceh (KPA) wilayah Pase, melalui jurubicaranya Dedi Syafrizal, dalam jumpa pers di kantor Partai Aceh Lhokseumawe (1/3), menilai bahwa pemberitaan adanya gerakan terorisme di Aceh merupakan isu murahan. Isu terorisme di Provinsi Aceh ini bahkan dinilai tidak rasional. Berita bahwa ada gerakan teroris di Aceh sangat tidak berdasar. Ini diduga hanya sebuah rekayasa oleh oknum tertentu untuk kepentingan kelompok maupun pribadi. Kondisi itu seperti sudah direncanakan, bukan terjadi dengan tiba-tiba. “Kami mengklaim tidak ada gerakan teroris di Aceh umumnya dan Aceh Utara khususnya. Apalagi ada informasi sudah berada di Aceh sejak tahun 2005. Ini sangat tidak dapat diterima oleh akal sehat. Kami menilai ini hanya kerjaan orang-orang yang tidak menginginkan Aceh tetap damai,” kata Syafrizal.

Sebagaimana diketahui, jika dikaitkan dengan jaringan Jamaah Islamiah, jaringan ini biasa menjadikan pihak asing sebagai target mereka. Padahal saat ini orang asing yang berada di Aceh sangat sedikit. Itu pun sedang dalam misi kemanusiaan. Dari sejumlah deretan peristiwa setelah perdamaian, ada sejumlah anggota KPA yang menjadi korban, termasuk dalam penggerebekan yang dikabarkan sebagai tempat latihan terorisme di Aceh Besar.

Sudarwis, salah seorang anggota DPRK Lhokseumawe dari Partai Aceh, mengatakan hal yang sama. Isu adanya kegiatan teroris di Aceh adalah rekayasa. Ini dikhawatirkan akan berdampak pada proses damai Aceh yang saat ini mulai berjalan. Sejauh ini, pihak KPA punya jaringan mulai dari tingkat pemerintahan hingga pedesaan. Jadi, menurutnya, tidak mungkin ada aksi lain yang tidak terpantau oleh mereka. Apalagi budaya dan adat Aceh sejak dulu tidak pernah menantang atau mempersoalkan pemeluk agama lain (Rakyataceh.com, 2/3).

Anggota Komisi VIII DPR-RI Sayed Fuad Zakaria juga mempertanyakan sejauh mana dugaan adanya keberadaan jaringan teroris di Aceh dan mengapa baru sekarang diketahui. Mantan Ketua DPRA ini menambahkan, di daerah Aceh yang merupakan paling ujung Sumatera ini tidak pernah terdengar adanya kelompok jaringan Jamaah Islamiyah yang selama ini dicap sebagai kelompok teroris (Rakyataceh.com, 2/3).

Belum juga kontroversi penggerebekan teroris di Aceh mereda, Selasa (9/3) lalu, pihak Kepolisian (Densus 88) tiba-tiba kembali melakukan penggerebekan, tepatnya di Warnet Multiplus, Pamulang, Tangerang. Dalam penggerebekan itu, Densus 88 berhasil menewaskan 3 orang teroris, satu di antaranya—meski masih simpang siur hingga tulisan ini dibuat—diduga Dulmatin yang merupakan gembong teroris yang dicari-cari oleh Pemerintah Amerika Serikat. Continue reading

NATO Sudah Dua Kali Membantai Warga Sipil Afghanistan dalam Seminggu

Sedikitnya tujuh warga sipil dan dua pejuang Taliban terbunuh dalam serangan udara yang dilancarkan oleh pasukan internasional terhadap tempat-tempat di Helmand, di Afghanistan selatan, demikian menurut apa yang sampaikan oleh Dawud Ahmadi, salah seorang yang menyaksikan sendiri insiden itu.

Dawud Ahmadi mengatakan bahwa “serangan itu terjadi setelah patroli internasional mendapat serangan tembakan dari milisi bersenjata pada hari Rabu lalu. Kemudian patroli internasional meminta bantuan udara kepada NATO. Continue reading

Mesjid Kuno ditemukan

Sejarah Masjid Kuno ‘Al Baiat’
Ditemukan di Mina
M. Rizal Maslan : detikNews
detikcom – Makkah, Ketika
pertama kali melihat
pembangunan Jamarat yang
megah dan besar di Mina
beberapa waktu lalu, sejumlah
kawasan perbukitan
dihancurkan. Yang menarik,
ketika penghancuran dan
pengerukan dilakukan
ditemukan sebuah bangunan
masjid kuno, Masjid Al Baiah atau
Masjid Al Baiat, begitu namanya.
Menurut sejumlah sumber yang
diperoleh, masjid kuno
berukuran 400 meter persegi
atau 17 x 29 meter dan
tingginya sekitar 7 meter,
dinding bagian belakang 2
meter ini ditemukan sekitar
tahun 2006 lalu. Sebelumnya,
masjid yang tertimbun ini hanya
diketahui kalangan terbatas
karena letaknya terpencil.
Tidak seperti masjid pada
umumnya, masjid kuno
berwarna krem ini dikelilingi
pagar besi berwarna hitam dan
dikunci gembok. Sehingga para
peziarah atau jamaah haji, saat
musim haji kemarin pun tidak
bisa melakukan salat di situ, tapi
salat di Masjid Al Khif yang
megah yang tak jauh dari
Jamarat. Selain itu, masjid ini pun
tidak memiliki tempat wudhu
atau toilet.
Namun begitu, para
pengunjungnya masih bisa
melihat kondisi dari luar atau
melongok sebagian ruangan
dari jendelanya yang memang
dibiarkan terbuka. Belum
diketahui dengan jelas, siapa
yang membangun masjid itu.
Informasi dari sejumlah
mukimin, warga Indonesia yang
tinggal di Makkah, Arab Saudi
mengatakan, masjid ini
merupakan sisa peninggalan
Dinasti Abbasiyah, sebagai
penghormatan kepada Abbas
bin Abdul Muthalib.
Abdul Muthalib sendiri
merupakan Paman Rasulullah
(Nabi) Muhammad SAW.
Keturunan paman Rasulullah ini
lalu membangun Dinasti
Abbasiyah. Sebagian orang
menganggap bahwa masjid ini
dibangun oleh jin, saat mereka
melakukan baiat (sumpah setia)
kepada Rasulullah. Namun
anggapan ini tidak bisa
dipertanggungjawabkan, karena
Masjid Jin memang ada di Kota
Makkah tidak jauh dari Masjidil
Haram, sebagai penanda
keimanan para jin kepada
Rasulullah.
Lalu masjid ini sempat terkubur
tanah. Namun dalam proses
pembangunan
besar-besaran Jamarat, budozer
yang melakukan pengerukan
tanah terantuk batu
yang sangat keras. Setelah
diteliti, ternyata batu keras
tersebut merupakan
masjid. Maka, masjid itu
dibiarkan seperti apa adanya.
Meski demikian, masjid ini tidak
difungsikan sebagaimana masjid
pada umumnya, hanya sebagai
tempat berziarah.
Meski demikian, bentuk masjid
dipelihara. Misalnya tempat imam
salat diberi
sajadah. Demikian pula dua saf
di belakang imam. Semua
sajadah dibiarkan kotor dan
berdebu, karena memang tidak
digunakan. Di tempat imam juga
terdapat tempat menaruh
microphone sehingga terkesan
masjid ini aktif digunakan. Di
beberapa sudut terdapat tempat
Al Quran.
Karena masjid terbuka tanpa
atap, maka dalamnya masjid
tidak ubahnya pelataran. Tidak
ada tegel yang bagus apalagi
marmer sebagaimana Masjidil
Haram. Tapi inilah peninggalan
sejarah yang dihargai
pemerintah Arab Saudi. Padahal,
biasanya kerajaan ini biasanya
membangun sesuatu secara
fungsional, meskipun harus
mengabaikan nilai sejarah yang
sangat besar. Menghormati
Abbas
Penghormatan Baiat Aqabah
Masjid Baiat dibangun oleh
Dinasti Abbasiah untuk
menghormati Abbas bin Abdul
Muthalib. Masjid ini dibangun
sebagai penghormatan atas
terjadinya Baiat Aqabah, karena
di tempat inilah kaum Yatsrib
(masyarakat Madinah)
melakukan baiat kepada
Rasulullah untuk taat dan tidak
melakukan syirik. Ketika itu,
Rasulullah SAW ditemani
pamannya Abbas bin Abdul
Muthalib yang belum beriman.
Meski demikian, ia sangat
memperhatikan kepada
keponakannya dan sangat
menjaga keselamatannya.
Baiat di Aqabah terjadi dua kali.
Baiat Aqabah pertama yang
terjadi tahun 621 M, yaitu
perjanjian antara Rasulullah
dengan 12 orang dari Yatsrib
yang kemudian mereka memeluk
Islam. Baiat Aqabah ini terjadi
pada tahun kedua belas
kenabiannya. Kemudian mereka
berbaiat (bersumpah setia)
kepada Muhammad SAW.
Adapun isi baiat itu, penduduk
Yatsrib tidak akan
menyekutukan Allah dengan
sesuatu apa pun; mereka akan
melaksanakan apa yang Allah
perintahkan; dan ketiga, mereka
akan meninggalkan larangan
Allah .
Setahun kemudian, tahun 622 M,
Rasulullah kembali melakukan
baiat di Aqabah.
Kali ini perjanjian dilakukan
Rasulullah terhadap 73 orang
pria dan 2 orang Continue reading