MENYAMBUT PENGUASA NEGARA PENJAJAH: MENGKHIANATI ALLAH, RASUL-NYA, ISLAM, DAN KAUM MUSLIM

Umat Islam saat ini dihadapkan pada persoalan kenegaraan yang sangat sulit, yaitu rencana kedatangan Obama bulan Maret ini. Sekiranya Obama seorang warga negara biasa tentu tidak akan melahirkan pro-kontra di tengah mayoritas umat Islam Indonesia. Masalahnya, sosok Obama tidak bisa dilepaskan dari kedudukannya sebagai pemimpin dari negara Amerika Serikat (AS). Dunia saat ini melek betul, AS telah banyak menciptakan tragedi kemanusian di berbagai belahan negeri Dunia Islam, baik dalam bentuk penjajahan militer ataupun penjajahan politik, ekonomi dan budaya.

Ironisnya, Pemerintah Indonesia berharap kunjungan Obama tidak batal. Pemerintah malah mengklaim kedatangan Obama ke Indonesia adalah atas undangan dari Pemerintah Indonesia yang disampaikan sebelumnya. Karena itu, Pemerintah berharap, rakyat Indonesia menyambut Obama dengan baik, dengan berbagai dalih. Misal, seperti yang diungkapkan Menkominfo Tifatul Sembiring, “Kedatangan Obama sebagai tamu negara perlu disambut baik, tidak hanya oleh Pemerintah, tapi juga oleh seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, banyak kepentingan Indonesia kepada negara adidaya itu.” (Eramuslim.com, 11/3).

Dukungan kepada Pemerintah juga diberikan oleh beberapa pihak dengan alasan kedatangan Obama ke Indonesia akan memberikan nilai positif, bahkan merupakan kesempatan untuk membangun dialog Islam dan Barat agar AS tidak lagi memposisikan Dunia Islam sebagai musuh, tetapi sebagai sahabat.

Namun, tidak bisa diabaikan, banyak majelis yang dihadiri para ulama dan tokoh masyarakat justru mengeluarkan pernyataan bersama untuk menolak kedatangan Obama. Hal itu dilakukan setelah melakukan kajian mendalam atas fakta-fakta (manât al-hukm) AS dan Obama sebagai presidennya, juga setelah menelaah nash-nash syariah (Al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas) sampai pada kesimpulan hukum (istinbâth al-hukm). Mereka menyatakan: haram mengundang, menerima dan menyambut seorang pemimpin negara penjajah (harbi fi’l[an]). Penolakan para ulama itu antara lain terjadi di Jawa Timur (Surabaya, Malang), Banten, Bandung, Sumbar, Kalmanatan Timur, Sulsel, Jogya, dll (Suaramedia.com, 13/3).

Dosa-dosa AS di Bawah Obama

Pertama: Di Irak Obama memang mendukung penarikan mundur pasukan AS secara bertahap dalam tempo 16 bulan sejak menjabat. Namun, Obama juga tidak setuju untuk menarik tentara AS total dari Irak yang dianggap masih tetap memberikan manfaat untuk mengamankan kepentingan AS di timur tengah. Obama bahkan berniat untuk menempatkan pasukan AS tidak hanya di Irak, tetapi juga di negara–negara Timur Tengah lain, seperti Kuwait. Padahal akibat pendudukan AS atas Irak sejak tahun 2003, menurut penelitian John Hopkins University, lebih dari 1 juta warga sipil Irak tewas. Kehancuran sosial, budaya serta ekonomi sangat luas.

Kedua: Di Afganistan, Obama menambah jumlah pasukan AS (30.000 pasukan), memperluas daerah operasi militer dan melancarkan serangan lintas batas secara sistematis. Obama telah memprioritaskan untuk membangun rezim agennya di Kabul sehingga Afganistan tetap ada dalam kontrol dalam kepentingan AS. Tujuannya adalah mempertahankan aset strategis di Asia Tengah seperti sumber energi dan infrastruktur pembangunan jalur pipa minyak. Ini sejalan dengan pikiran yang diungkap Obama dalam debat Senat Illionis di Jaringan Radio Illionis 12 Oktober 2004.

Ketiga: Dalam kasus Iran, Obama berjanji menyusun kekuatan internasional untuk menekan Iran dan mencegah Iran mengembangkan nuklir. Obama juga tidak menafikan kemungkinan penggunaan aksi militer untuk menguasai ladang minyak dan gas bumi Iran apabila diperlukan. Saat yang sama, seperti para presiden AS sebelumnya, Obama membisu seribu bahasa atas Israel dengan fasilitas nuklirnya di Demona, Gurun Negev, yang beroperasi sejak tahun 1960 dan telah memiliki hulu ledak nuklir yang menjadi ancaman serius di kawasan Timur Tengah.

Keempat: pada Forum AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) Juni 2008 lalu, Obama dengan lantang dan tegas menyatakan dukungannya terhadap Negara Israel. “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.”

Juru Bicara Obama juga menegaskan, “Obama akan menghormati kesepakatan-kesepakatan yang sudah dilakukan terkait dengan bantuan dana bagi Israel dan akan mengusahakan agar bantuan itu ditingkatkan sampai 30 miliar dolar AS dalam jangka waktu 10 tahun.” (Suaramedia.com, 6/10/08).

Joe Biden (Wapres AS) dalam ceramahnya di Universitas Tel Aviv juga menegaskan, tidak ada teman terbaik di dunia ini bagi Washington (AS) kecuali Israel (Eramuslim.com, 12/3).

Kemenangan Obama menjadi presiden pun tidak lepas dari dukungan finansial dari komunitas Yahudi seperti: Sheldon Adelson (seorang Republikan); neokonservatif dan seorang ‘megadonor’, Sherry Lansing, penggalang dana dan donatur utama Partai Demokrat, pernah menjadi perempuan pertama yang memimpin Paramount, salah satu studio film terkemuka di Hollywood; Penny Pritzker, ketua nasional bidang keuangan kampanye Obama, seorang miliarder berasal dari keluarga Yahudi yang dikenal kerap menjadi donatur besar; Denise Rich, mantan istri miliarder March Rich, Barbra Streisand, penyanyi terkenal yang menjadi ikon Yahudi-liberal dan penggalang dana bagi Yahudi; dll.

Pembantaian Gaza oleh Israel yang terjadi dari tanggal 28 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009 sama sekali tidak disinggung dalam pidato kemenangan Obama. Saat serangan biadab Israel di Gaza itu, Obama justru sangat kentara mendukung penuh negeri Zionis dengan dalih mempertahankan diri. Padahal serangan itu telah mengakibatkan 1.400 orang lebih tewas; ratusan di antaranya adalah anak-anak, wanita dan orang tua; 5.000 orang terluka, termasuk 1.000 yang cacat seumur hidup; selain kehancuran dahsyat akibat berbagai jenis senjata paling mutakhir negeri Zionis itu.

Bagi Obama, menjaga keamanan Israel tidak bisa ditawar dan Amerika di bawah Obama akan tetap menjaga eksistensi Israel. Obama pada faktanya lebih Yahudi daripada orang-orang Yahudi (Lihat: Obama Revealed, Realitas di Balik Pencitraan, Dina Y. Sulaeman, Aliya Publishing 2010).

Kelima: Itikad Obama menutup Penjara Guantanamo juga sudah menjadi cerita usang tiada bukti. Justru Obama lebih gencar melakukan perburuan ‘teroris’ dengan cara menyerang kawasan Yaman, perbatasan Pakistan dan membunuh orang-orang yang hanya disangka ‘teroris’ oleh AS. AS juga memberikan dukungan dana dan pelatihan di negeri Muslim (misal Den-88 Indonesia) untuk mengeksekusi orang-orang yang dianggap bagian dari jaringan al-Qaidah.

Wajib Menolak Obama!

Sejak awal AS telah menempatkan Indonesia sebagai wilayah dan mitra strategis untuk mengokohkan agenda Kapitalisme globalnya. Karena itu, sangat wajar jika penolakan umat Islam terhadap Obama terus membesar dan melahirkan sikap kritis terhadap apa yang dilakukan oleh penguasa. Selain sejumlah alasan di atas, juga antara lain karena:

1. Penguasa telah melanggar Konstitusinya sendiri, yakni UUD 1945 (di bagian Pembukaan) yang tegas menentang seluruh bentuk penjajahan. Jika konsisten dengan UUD ini, bagaimana bisa melihat AS sang penjajah menjadi samar hanya karena sosok Obama? Mengapa pula Indonesia seperti lebih menampakkan diri sebagai negara terjajah daripada menjadi negara yang merdeka? Faktanya, Indonesia bukan hanya tidak sanggup untuk mengatakan AS sebagai negara penjajah, tetapi bahkan memposisikan diri menjadi sapi perahan dari proyek global Kapitalisme yang diemban oleh AS.

2. Jika mengacu pada kaidah politik luar negeri AS maka kepentingan dalam negeri AS adalah segalanya. Dengan “soft strategi” Obama mendekati Dunia Islam, termasuk Indonesia, dengan jargon “mutual respect dan mutual interest”. Padahal kenyataannya, kehadiran Obama (khusus ke Indonesia) tidak lain adalah untuk mengokohkan penjajahan politik ekonomi AS. Indonesia adalah modal besar dan penting untuk AS, karena populasi penduduk, sumberdaya alam maupun geopolitiknya; baik untuk kawasan Asia Pasifik maupun Dunia Islam. Obama sebagai presiden AS datang ke Indonesia untuk memastikan Indonesia tetap dalam kendali dan cengkeraman kepentingan global AS.

3. Berdasarkan pengkajian terhadap nash-nash syariah, menerima pemimpin dari negara penjajah (harbi fi’l[an]) sebagai tamu adalah haram secara syar’i. Obama adalah presiden negara penjajah. Kenyataan ini tidak bisa diabaikan begitu saja hanya karena sosok pribadinya yang berbeda dari pemimpin AS sebelumnya. Sebagian kalangan yang merespon secara positif kehadiran Obama tidak bisa bersembunyi di balik nash tentang kewajiban memuliakan tamu, sementara mereka mengabaikan fakta, bahwa Obama bukanlah tamu yang baik, melainkan tamu yang jahat, yang bahkan masih berlumuran darah kaum Muslim!

Wahai kaum Muslim:

Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang di luar kalangan kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa saja yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi (QS Ali Imran [3]: 118).

Karena itu, dengan alasan apapun sesungguhnya kaum Muslim haram menyambut Obama. Sebab, sikap itu berarti mengkhianati Allah SWT, Rasulullah saw., Islam dan kaum Muslim. Justru yang wajib dilakukan adalah menolaknya!

Lebih dari itu, sudah saatnya umat Islam memiliki penguasa yang benar-benar hanya takut kepada Allah SWT, bukan takut kepada Amerika atau siapapun yang menjadi musuh umat. Saatnya umat memiliki penguasa yang berpihak pada kepentingan dan kemaslahatan mereka, bukan melayani kepentingan negara penjajah seperti AS. Saatnya umat mengupayakan kehadiran sosok penguasa yang bisa menjaga ‘izzah (kemuliaan) Islam dan kaum Muslim, bukan terus-menerus berada di bawah kekuasaan penguasa yang justru menghinakan Islam dan kaum Muslim. Sosok penguasa itu tidak lain adalah sebagaimana para khalifah pada masa lalu, pemimpin negara Khilafah. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan Khilafah sekaligus mengangkat seorang khalifah adalah kebutuhan umat saat ini sekaligus kewajiban dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Wallâhu a’lam bi ash-shawab. []

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s