Perang Melawan Terorisme (Membaca Lagi Motif AS)

Banyak mesjid mesjid di Irak telah dihinakan oleh para pasukan penjajah. Dalam gambar bisa dilihat para pasukan Penjajah AS Lakantullah menginjak nginjak mesjid dengan sepatu mereka yang penuh darah darah muslim Irak. Sejarah perang salib terulang Kembali. masihkah umat Islam dunia, diam saja ??

Oleh: Denny Kodrat
“The people of the Muslim world are candidates for revolution. They are young: over 60 percent are under twenty five years of age.” (Mantan Presiden AS, Richard Nixon, dalam, “Seize the moment”).

AS dan Pendekatan Teror
“Perang Melawan Terorisme” bukan merupakan jargon baru yang didengungkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Kampanye ini juga bukanlah sebuah proyek yang bebas nilai atau steril dari kepentingan. Sebaliknya, terorisme telah menjadi sebuah isu yang didesain sedemikian rupa —untuk dimanfaatkan— oleh AS untuk lebih mencengkeramkan hegemoninya di seluruh dunia tanpa kecuali.

Dalam sebuah pertemuan di Doha, mantan presiden AS Bill Clinton pernah berkomentar, “The defining feature of the modern world is not terror, nor is it trade nor technology, although terror, trade, and technology are manifestations of the defining feature of the modern world, which is interdependence…

The main point I would like to make about the interdependent world that applies to the relationship between the United States and the Islamic world is that the interdependence we enjoy has been of great benefit to some of us, but it is unequal, unstable, and unsustainable.” (Ciri khas dunia modern bukanlah teror, perdagangan, atau teknologi —meski teror, perdagangan, dan teknologi muncul sebagai ciri— melainkan saling ketergantungan… Poin yang ingin saya tekankan dalam ciri khas dunia modern ini yang mengacu pada hubungan antara AS dan Dunia Islam, bahwa ketergantungan telah banyak menguntungkan kita, meski (keuntungan tersebut) tidak sama, tidak stabil, dan tidak saling mendukung).

Apa yang diungkapkan Clinton telah membuka tabir bagaimana agenda politik luar negeri AS. Dunia yang saling bergantungan (interdependent), khususnya Dunia Islam dengan AS, telah dimanfaatkan dengan baik untuk menjaring kepentingan-kepentingan AS. Dari pernyataan ini pula, AS secara sadar telah membuka motif di balik hubungan-hubungan luar negerinya dengan Dunia Islam.

Henry Kissinger, lebih lanjut, dalam bukunya yang bertajuk, Does America need a Foreign Policy? Toward a Diplomacy for The twenty-First Century (2001), secara rinci menjelaskan mengenai apa yang sedang mendominasi atmosfir politik AS. Ia menulis, “AS di ujung millenium baru ini tengah menikmati keadidayaan yang bahkan belum pernah dirasakan oleh imperium terbesar sekalipun pada permulaan sejarah; Amerika bisa menguasai dominasi yang tidak tertandingi di seluruh penjuru dunia.”

Berkaitan dengan kekuatan dan persebaran militernya, Kissinger menambahkan, “Angkatan bersenjata AS tersebar ke seluruh dunia dengan mudah dari Eropa Utara hingga Asia Tenggara, bahkan pangkalan-pangkalan ini akan berubah karena intervensi AS atas nama perdamaian menjadi kebutuhan militer yang permanen.”

Ia pun tak lupa menulis, “AS adalah sumber dan penjaga institusi demokrasi di dunia. AS bisa menguasai sistem moneter internasional dengan kucuran akumulasi modal investasi yang jauh lebih besar, dengan kepuasan yang jauh menarik minat para investor, serta pasar ekspor asing yang sangat luas. Kebudayaan bangsa AS juga menjadi standar di seluruh pelosok dunia.”

Apa yang ditulis oleh Kissinger ini telah mempertegas konsep Pax Americana yang sesaat setelah Perang Teluk II ditawarkan oleh Josep Biden, seorang senator untuk hubungan luar negeri kala itu. Konsep dasarnya nyaris sama dengan yang disebut Kissinger, yakni mencakup tata dunia baru yang benar-benar dikuasai secara tunggal oleh AS; bukan konsep bipolar, atau balancing of power, mencegah munculnya kekuatan tandingan yang baru, baik dalam level global maupun wilayah-wilayah geo-strategis yang penting. Tercakup dalam wilayah ini adalah Eropa Barat, Asia Timur —bekas negara jajahan Uni Soviet— dan Asia Barat Daya; menyisakan kekuatan luar yang dapat digunakan untuk mengamankan akses kepentingan-kepentingan AS.

Gaya pendekatan politik luar negeri AS yang mencengkeram ini sangat disadari oleh para elite politik Eropa, Cina, dan Rusia. Bahkan Putin sempat berkomentar, “Semua model hubungan internasional yang dibangun berdasarkan cengkeraman tidak akan berumur panjang.” Inilah indikator bahwa AS telah memasuki dunia dengan gaya pendekatan yang lebih brutal, tidak elegan. AS menciptakan kondisi internasional yang penuh dengan ketegangan, memperumit permasalahan internasional, dan mengelola krisis regional. Ini dilakukan dengan cara-cara yang bisa menyebabkan krisis tersebut meledak serta memercikkan perasaan kolektif secara terus-menerus mengenai ketidakamanan dan instabilitas di dunia, yang berikutnya mendasari munculnya opini publik dalam skala massif bahwa AS-lah sang dewa penyelamat dan pemimpin dunia. Akibatnya, negara-negara di dunia dan rakyatnya tidak memiliki pilihan selain patuh kepada AS. Dengan demikian, AS memprediksi bahwa situasi internasional bisa dia kendalikan sendiri dan dialah yang akan memimpin kendalinya. Inilah rencana jangka panjang AS.

Target Opini Terorisme
Jalan untuk mencapai tahapan akhir yang dicita-citakan AS, yakni dunia sepenuhnya tunduk dan mengabdi pada imperialisme, ternyata tidak berjalan mulus. Banyak konflik muncul sebagai bentuk perlawanan. Bentuk penolakan sekaligus pembangkangan terhadap arogansi AS ini muncul secara kuat di negeri-negeri Islam. Sebut saja Irak pasca runtuhnya rezim Saddam. Awalnya banyak pengamat politik yang memprediksikan AS akan secara mudah mengontrol daerah ini sebagaimana Afganistan, namun nyatanya perlawanan kaum Muslim di sana terus dilakukan. Bahkan secara opini, perlawanan tersebut semakin meluas, tidak hanya di kalangan publik Muslim di Timur Tengah, melainkan di seluruh dunia. Wajar jika langkah tandingan untuk menghentikan perlawanan ini dilakukan AS saat KTT G-8 di Sea Island Georgia. Beberapa agenda untuk mengkampanyekan reformasi hukum, demokratisasi dan kebebasan, serta peningkatan ekonomi dan perubahan kurikulum pendidikan dikeluarkan AS untuk daerah Timur Tengah.

Namun, perlu kita sadari bahwa AS memegang kontrol media dan piawai dalam mendramatisasi sebuah informasi. Sekecil apapun peristiwa yang berbau teror, apalagi mengatasnamakan atau membawa simbol Islam —terlepas peristiwa tersebut hasil rekayasa ataukah tidak— media kemudian mengeksposnya secara dramatis. Apalagi peristiwa besar seperti penyanderaan terhadap siswa di sekolah yang terjadi beberapa waktu lalu di Rusia. Media memblow up dari berbagai sudut pandang, dengan sebuah tujuan yang jelas, bahwa peristiwa tersebut adalah teror yang harus dilawan. Bahkan, terorisme biasanya dikaitkan dengan konflik Palestina-Israel dan kelompok Al-Qaeda. Berikut kutipan berita yang dirilis oleh Radio Singapura Internasional saat meliput Asia Security Conference Juni 2004. “Konflik Israel–Palestina justru memancing munculnya terorisme. Meskipun tentunya kita juga tahu bahwa solusi atas konflik Israel–Palestina tidak serta-merta menyudahi masalah terorisme, karena motivasi ideologis para teroris ada juga yang berasal dari al-Qaeda. Tapi setidaknya … jika ketidaksukaan kebanyakan warga Muslim akan kebijakan Amerika di Timur Tengah dikurangi, maka akan membatasi keinginan mereka untuk berperang.”

Hal yang sama terjadi di negeri ini. Peledakan di Kedubes Australia yang dikaitkan dengan nama Dr. Azahari atau Noordin M. Top —keduanya diduga aktivis Jamaah Islamiah— telah membuat hampir seluruh masyarakat mengutuk peristiwa tersebut. Namun, tidak dapat dihindari adanya opini di masyarakat bila kemudian muncul anggapan kelompok (Islam) yang menentang AS dan sekutunya cenderung destruktif. Jarang sekali, jika tidak disebut mustahil, ada media yang mau melakukan investigasi terhadap beberapa pendapat dari kalangan yang terbatas mengenai kemungkinan adanya rekayasa pihak asing terhadap peristiwa teror bom tersebut. Pertanyaan-pertanyaan sederhana —namun patut ditelaah secara kritis— muncul dari publik awam seperti, “Kok uangnya Dr. Azahari tidak pernah habis?”; “Bahan-bahan bom kok mudah sekali ditemukan di pasar?”; atau “Intelijen kita kalah informasi dibandingkan dengan asing mengenai akan adanya bom”. Seolah-olah upaya untuk mengaitkan peristiwa terorisme dengan AS tidak pernah ada dan tidak ada ruang untuk itu. Sebaliknya, jika pengaitannya dengan aktivis Islam yang anti Barat, atau dengan perjuangan dan solidaritas Palestina, tampaknya hal itu bisa dengan mudah dibuat.

Target opini yang dibidik dari setiap peristiwa terorisme, nyata sekali menguntungkan AS dan sekutunya. Pertama, munculnya situasi tidak aman di masyarakat. Akhirnya, masyarakat meresponnya dengan sikap sangat hati-hati terhadap sesama kaum Muslim, apalagi dari kalangan penggiat dakwah. Sikap tersebut tentu saja menjadi kendala terhadap masuknya dakwah ke tengah-tengah masyarakat. Iklim yang penuh ketegangan dan kecurigaan terhadap pendakwah sudah barang tentu dapat mengkristalkan semangat Islamphobia.

Kedua, munculnya mental “tertuduh”. Masyarakat senantiasa menyalahkan umat Islam saat terjadinya aksi terorisme. Lebih parah lagi bila sikap “tertuduh” ini mengakibatkan adanya dikotomi umat Islam, yaitu umat Islam yang moderat, yang diasumsikan dengan anti terorisme dan cinta damai, dengan umat Islam yang fundamentalis, yang dicirikan dengan anti kompromi, anti Barat, dan radikal. Lebih celaka lagi bila sikap “tertuduh” ini menyusup masuk kepada kelompok Islam ideologis. Bisa dibayangkan, untuk menghindari tuduhan-tuduhan miring tersebut, kelompok ini akhirnya mengubah fikrah dan tharîqah-nya sehingga sesuai dan sejalan dengan ciri Islam moderat. Bila ini sampai terjadi, AS sangat diuntungkan sekali, atau singkatnya AS telah dapat menghilangkan salah satu potensi yang dapat mengancam dirinya.

Ketiga, terjebak mengikuti skenario AS. Yang dimaksud dengan mengikuti skenario AS di sini adalah menganggap bahwa AS-lah dewa penyelamat yang akan menenteramkan dan membuat aman kehidupan. Terorisme hanya akan dapat ditumpas bila negeri ini secara totalitas tunduk di bawah keinginan AS. Selat Malaka, misalnya, kalau perlu menjadi pangkalan permanen militer AS jika hal itu dibutuhkan AS.

Sikap Umat Islam
Umat Islam seharusnya cerdas menyikapi setiap peristiwa terorisme ini; tidak mudah terpancing untuk bertindak yang kontra produktif bagi dakwah Islam. Misalnya, dengan adanya peristiwa-peristiwa terorisme maka opini mengenai syariat Islam dihentikan. Kajian-kajian keislaman diliburkan untuk menghindari tuduhan sebagai teroris. Jelas sekali, ini langkah yang salah. Selama aktivitas dakwah dilakukan secara pemikiran dan sesuai dengan Sunnah Rasul, tanpa adanya aktivitas kekerasan fisik, tidak perlu ada perubahan dalam penyampaian opini Islam. Namun, jangan sampai kita tidak waspada. Sikap waspada tetap harus ada untuk mencegah masuknya rekayasa yang dapat menghancurkan dakwah Islam, apalagi sampai terprovokasi untuk menggunakan metode dakwah dengan kekerasan.

Di samping itu, menumbuhkan kesadaran politik (wa‘y as-siyâsi) internasional di tengah-tengah masyarakat sangatlah mendesak. Sebab, dengan tumbuhnya kesadaran ini, masyarakat tidak hanya akan mengetahui konstelasi perpolitikan internasional an sich, tetapi juga akan secara tegas menyadari bahwa AS merupakan negara imperialis yang dengan berbagai cara akan selalu menciptakan hegemoni atas umat Islam. Kebencian terhadap AS akan muncul seiring semakin telanjangnya kebijakan-kebijakan politik AS yang diskriminatif dijalankan.

Penyikapan terhadap peristiwa terorisme ini akan semakin kuat bila kemudian secara sistematis dan teratur dilakukan upaya kontra opini. Opini yang menyebutkan bahwa “Islam adalah agama teror” atau “agama teror adalah Islam” tentu harus diluruskan, bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘âlamîn. Setiap opini yang mengidentikkan kelompok Islam ideologis yang berupaya menerapkan syariat dan mendirikan Khilafah dengan kelompok teroris tentu harus diklarifikasi secara jelas. Bahkan, setiap opini yang menyebutkan bahwa perjuangan kaum Muslim di Irak, Afganistan, Palestina, Kosovo, atau negeri-negeri Islam yang sedang tertindas sebagai sebuah tindakan terorisme harus ditentang keras. Kontra opini ini penting dilakukan untuk meluruskan opini-opini keliru yang sengaja dikampanyekan AS.

Memetik pelajaran yang terjadi beberapa waktu lalu dan mencermati bagaimana strategi AS terhadap Dunia Islam, maka sesungguhnya menegakkan Khilafah merupakan perjuangan yang sangat urgen ditinjau dari tiga alasan. Pertama, secara syar’i banyak sekali nash yang menyatakan bahwa penerapan hukum Islam adalah wajib. Penerapan hukum Islam ini tidak mungkin dapat terwujud bila tidak ada Khilafah. Allah SWT berfirman:

Siapa saja yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka dia termasuk golongan kafir. (Qs. al-Maa’idah [5]: 44).

Rasulullah Saw bersabda:
Barangsiapa yang dipundaknya tidak ada baiat (terhadap Khalifah) maka ia mati dalam keadaan mati jahiliah. [HR. Muslim].

Bahkan para ulama dulu sudah menyepakati bahwa Khilafah adalah wajib keberadaannya untuk menjamin penyelenggaraan hukum-hukum Islam.

Kedua, secara ideologis, tampaknya sulit sekali menghentikan dominasi ideologi kapitalisme bila dilakukan secara sporadis atau berkelompok. Apalagi ideologi kapitalisme ini disokong oleh sebuah negara dengan infra struktur yang super lengkap. Oleh karena itu, umat ini memerlukan sebuah negara adidaya untuk menghentikan hegemoni ideologi kufur tersebut.

Terakhir, alasan politik. Hanya dengan Khilafahlah berbagai macam kejahatan AS dan sekutu-sekutunya, baik itu berupa kejahatan atas kemanusiaan, kejahatan atas akhlak, kejahatan atas ekonomi, dll dapat dihentikan. Dengan Khilafah pula —Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj nubuwwah— umat Islam beserta seluruh manusia dapat hidup secara aman dan sejahtera. Insya Allah. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. [Majalah al-Wa’ie, Edisi 51]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s