FORMALISASI SYARIAT ISLAM

Berbagai cara dilakukan oleh kelompok penentang syariah Islam di Indonesia, tetapi intinya sama, yakni menolak syariah Islam. Ada yang seakan menerima syariah Islam, tetapi sebenarnya menolak penerapannya. Contohnya adalah ketika dikatakan, “Kami menerima syariah Islam, tetapi bukan formalisasi syariah Islam,” “Yang penting adalah substansi dan nilai-nilainya,” atau, “Yang penting hukum itu terpenuhi maqâshid syarî‘ah (tujuan hukum)-nya sehingga syariah Islam tidak harus diformalkan apalagi diwujudkan dalam bentuk negara Islam. Dikatakan juga, misalnya, “Untuk apa formalisasi jika justru kemudian menyimpang dari syariah Islam.”

Sepertinya semua pernyataan di atas benar, padahal sesungguhnya merupakan racun yang berbahaya.

Maksud formalisasi sendiri adalah bahwa negara secara nyata dan konstitusional menyebutkan bahwa dasar negara adalah Islam dan hukum yang berlaku adalah syariah Islam; syariah Islam sebagai satu-satunya sumber hukum dalam segenap aspek kehidupan. Mengapa penegasan ini penting? Pertama: Karena hal itu akan sangat menentukan arah, tujuan, serta bagaimana negara diatur. Negara yang berasaskan sekularisme tentu saja tidak akan menerima syariah Islam sebagai sumber hukum negara satu-satunya. Negara sekular pasti akan menjadikan kedaulatan di tangan rakyat (demokrasi) sebagai sumber kebenaran. Hukum yang diterima adalah yang dilegalisasi oleh parlemen dengan suara terbanyak. Kalaupun ada yang mengusulkan secara parsial salah satu hukum Islam, tetap harus lewat legalisasi parlemen dengan mekanisme suara terbanyak (voting). Atas dasar suara terbanyak pula hukum parsial itu bisa ditolak atau digugurkan. Sama halnya dengan negara yang asasnya Komunisme. Dalam negara seperti ini, tentu kita sedang bermimpi kalau syariah Islam bisa menjadi sumber hukum negara.

Para penyusun konstitusi tersebut akan sangat mencermati kata demi kata teks dari konstitusi tersebut. Lihat saja pengalaman saat penghapusan Piagam Jakarta. Mengapa kelompok sekular menghapus kalimat ‘menjalankan syariah Islam bagi pemeluknya’? Karena mereka sangat paham akan konsekuensi kata-kata itu. Kalau formalisasi ini tidak penting, mengapa kata-kata itu kemudian menjadi bahan perdebatan panjang? Demikian pula saat penyusunan RUU Sisdiknas. Kelompok sekular dengan tegas menolak kata-kata yang berbau Islam seperti ketakwaan. Sama halnya saat penyusunan RUU APP; kata demi kata begitu diperhatikan. Faktanya, tampak jelas bahwa draft pertama RUU APP dan draft kedua sangat jauh berbeda. Semua ini menunjukkan bahwa formalisasi itu sangat penting. Ini sangat dipahami oleh kelompok sekular.

Kalau dasar negara ini adalah Islam dan hukum yang berlaku secara formal konstitusional adalah syariah Islam, tentunya tidak ada lagi perdebatan tentang apakah pornografi itu boleh atau tidak; tidak perlu lagi divoting apakah judi atau pelacuran itu harus dilegalkan atau tidak. Sebab, hukumnya sudah jelas, yakni bersumber dari syariah Islam. Jadi, tidak akan ada yang menolak hukum Islam dengan alasan bertentangan dengan HAM, mengancam kebhinekaan, bias jender, dll.

Kedua: penolakan formalisasi syariah Islam akan membuat Islam ini menjadi agama yang mandul. Sebab, dengan formalisasi syariah Islam, ajaran Islam akan secara praktis diterapkan negara untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Kalau tidak, ajaran Islam hanya berperan sebagai motivator, inspirator, dan sekadar penyumbang nilai-nilai moral saja bagi kebijakan negara. Islam pada akhirnya hanya menjadi agama ritual seperti Budha atau Kristen.

Lihat saja seperti yang dilakukan oleh Negara Vatikan; ia hanya menyerukan perdamain dunia, tetapi tidak mau dan mampu berbuat apa-apa untuk membendung kekejaman Israel dan Amerika Serikat yang membunuh umat Islam. Bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. sebagai kepala negara saat ada seorang Muslim yang syahid akibat dikeroyok oleh orang-orang Yahudi setelah membunuh seorang Yahudi yang melecehkan seorang Muslimah di pasar. Saat itu, Rasulullah saw. tidak hanya mengeluarkan seruan moral dan mengecam, tetapi melakukan aksi langsung dan kongkrit: menghukum mati semua Yahudi yang terlibat dalam pembunuhan Muslim itu dan mengusir semua orang Yahudi dari Madinah karena mereka telah melanggar perjanjian dalam Piagam Madinah.

Hal yang sama dilakukan Khalifah Al-Mu’tashim Billah saat mendengar ada seorang Muslimah yang dinodai oleh pasukan Romawi. Saat itu Khalifah tidak sekadar mengutuk atau mengecam. Khalifah kemudian mengirim pasukannya dalam jumlah yang besar. Imam as-Suyuti, dalam Târîkh al-Khulafâ’, menjelaskan, saat itu pasukan yang dikirim Khalifah berhasil membunuh 30.000 pasukan Romawi dan menawan 30.000 yang lainnya. Hal ini bisa dilakukan karena secara formal negara mengadopsi hukum jihad yang mewajibkan negara membela rakyatnya yang teraniya. Bandingkan dengan sekarang, siapa yang membela dan membebaskan kaum Muslim di Irak, Afganistan, Palestina, dan Libanon?

Tanpa formalisasi, Islam hanyalah sekadar fikrah (ide) tanpa tharîqah (metode) praktis untuk merealisasikannya. Islam akan menjadi ide khayalan. Padahal ajaran Islam mencakup fikrah sekaligus tharîqah. Islam, misalnya, tidak hanya berbicara tentang keharusan menjaga nyawa manusia, tetapi juga memberikan tharîqah (metode) praktis agar nyawa manusia benar-benar terjaga. Karena itu, Islam menerapkan hukuman mati (qishâsh) bagi para pembunuh.

Walhasil, kita jelas menghendaki adanya formalisasi syariah Islam sekaligus praktik realnya. Tentu saja kita tidak menginginkan Negara Islam sekadar namanya, sementara yang diterapkan adalah hukum-hukum sekular. Yang kita inginkan adalah Daulah Khilafah yang asasnya Islam dan memang benar-benar menerapkan syariah Islam, bahkan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Intinya, kita menghendaki formalisasi syariah Islam yang memberikan ketegasan dasar dan hukum bagi negara sekaligus realisasi dari formalisasi syariah Islam itu. Wallâhu a‘lam. [Farid Wadjdi]

Advertisements

One response to “FORMALISASI SYARIAT ISLAM

  1. aku heran banget lho ko ada ya orang yang ngotot pengen punya negara berazaskan agama. mending cari pulau kosong ga berpenghuni,mas. trus disana sampeyan mendirikan negara sesuai dengan apa yang sampeyan ingini. trus ajak temen temen, saudara dan relasi yang punya satu pikiran dengan anda. kalau Indonesia sih Pancasila dah jadi harga mati dan ga bisa dirubah-rubah lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s