MENEGOSIASI MASA DEPAN SYARIAH DAN NEGARA

MENEGOSIASI MASA DEPAN SYARIAH DAN NEGARA [2]

Jika ide Abdullah Ahmed an-Naim diterapkan, semua institusi yang berlebelkan Islam harus dihapus. Termasuk Depag, sekolah Islam, peradilan dan MUI[Catatan untuk Abdullah Ahmed An-Naim]Oleh: Henri Shalahuddin, MADalam diskusi dengan Prof. Dr. Abdullah Ahmed An-Naim, Dr. Hamid Fahmy mengajukan banyak poin dalam mengkritisi pendapat an-Naim. Di antaranya bahwa negara sekular muncul dalam sejarah pada abad 17 M di Eropa sebagai hasil dari konflik berdarah antara penguasa Gereja dan masyarakat. Sehingga diputuskan negara harus dipisahkan dari Gereja.Pengalaman Barat yang ganjil ini diekspor ke dunia Islam melalui kolonialisme Barat. Jadi sekularisasi politik di dunia Islam tidak dilakukan secara suka rela, dengan pemaksaan melalui kekuatan senjata penjajah.Lalu Hamid mempertanyakan, jika negara adalah benda mati dan tidak bisa disebut dan tidak pernah ada negara Islam, maka hal yang sama juga bisa diterapkan pada sekuler, komunis dst. Jadi negara tidak mungkin sekuler, atau komunis, sebagaimana tidak mungkin berdasarkan Islam? Dan masih banyak lagi poin penting yang tidak dijawab an-Naim. Dalam jawabannya tentang poin kritis di atas, singkatnya an-Naim menjawab: “Islam adalah agama bukan ideologi, sedangkan sekular seperti halnya komunis dan sosialis adalah ideologi dan bukan agama”.Istilah syariah sebenarnya sudah ada pada zaman Nabi, bukan pada abad kedua dan ketiga hijriyah seperti yang didustakan an-Nuim. Sahl ibnu Mu’adz (generasi Tabi’in) meriwayatkan dari ayahnya (Mu’adz ibnu Anas, Sahabat dari kalangan Anshar), bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Umat ini senantiasa tetap pada Syariah, selama belum nampak tiga perkara: 1- Belum dilenyapkannya ilmu (agama) dari mereka, 2- Belum banyaknya anak-anak dari hasil perzinahan, 3 dan belum nampak Shaffarun. Mu’adz bertanya, apakah Shaffarun atau Shaffalawun itu ya Rasulullah? Beliau bersabda: Mereka itu adalah manusia yang muncul di akhir zaman, di mana ucapan selamat atau pujian (tahiyyah) di kalangan mereka adalah pelaknatan”. (HR. Ahmad, dalam bab musnad al-Makkiyyin).Di samping itu dalam Shahih Muslim, bab Muqaddimah dijelaskan istilah syariah dalam konteks perintah mempertahankannya. Perintah mempertahankan syariah disebutkan dalam penjelasan tentang konsep isnad yang merupakan bagian dari agama. Jadi dalam berislam, harus melihat sanad (silsilah) dari mana dan dari siapa ajaran itu diperoleh?Istilah “Syariah” juga muncul dalam QS. Al-Jatsiyah 18, “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al-Jatsiyah : 18).Ayat ini berkenaan dengan Bani Israil yang banyak mendapatkan anugerah dari Allah dan dilebihkan dari bangsa-bangsa lain pada masanya (QS Al-Jatsiyah ayat 16). Lalu Allah memberikan penjelasan tentang peraturan agama. Peraturan ini hanya diperselisihakan oleh orang-orang yang dengki (QS Al-Jatsiyah ayat 17). Kemudian dilanjutkan pada ayat 19 bahwa sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain (ba’dhuhum auliya’a ba’dhin).Jadi istilah syariah pun sudah ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Tapi karena pengertian syariah tersebut tidak sesuai dengan pola yang diinginkan an-Naim, maka otomatis tidak diakuinya.Dalam pandangan saya, setelah mengamati pemikiran an-Naim, dapat disimpulkan bahwa dia berusaha memperkecil peran dan pengaruh hukum syariah dalam kehidupan publik umat Islam. Bahkan lebih dari itu, bagaimana Islam dan syariah tidak bisa berperan sama sekali dalam ranah publik. Idenya ini direalisasikan dengan menggunakan metode relativisme.Jika Nasr Hamid Abu Zayd ingin menegakkan paham relativisme dalam konsep wahyu dan akidah, maka konsep ini dilaksanakan an-Naim dalam dataran syariah dan negara. Ini tidak aneh, sebab sesama kalangan liberal adalah ba’dhuhum auliya’a ba’dhin.Anehnya, justru buku an-Naim yang baru diterbitkan dalam edisi Indonesia ini, mendapat pengakuan dan sanjungan dari dua akademisi nasional, Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif dalam kover depan dan belakang.Dalam kover depan, Azyumardi menulis: “Buku ini, tidak ragu lagi, merupakan kontribusi penting bagi diskusi dan perdebatan tentang tarik tambang syariah, sekularisme dan negara.”Sedangkan di kover belakang buya Syafii yang dikenal sebagai tokoh santun dan sederhana ini justru menulis, “An-Na’im punya otoritas berbicara tentang syariah dalam kaitannya dengan keperluan mendesak umat Islam untuk merekonstruksi seluruh hasil ijtihad para fuqaha dan ulama selama tiga abad pertama hijriah. Melalui rekonstruksi ini diharapkan Islam akan mendorong dan sekaligus mengawal arus perubahan sosial yang tak terelakkan, dan syariah dalam maknanya yang autentik akan dijadikan acuan utama dalam merumuskan kebijakan publik secara cerdas dan berkualitas tinggi”.Kita berdoa, semoga kedua intelektual kita ini mau berfikir ulang terhadap pemikiran an-Naim secara jernih tanpa dipengaruhi oleh kepentingan apapun dan melihat kembali makna kata perkata yang ditulisnya dalam pengakuan dan sanjungannya terhadap buku an-Naim tersebut.Sebab bila ide an-Naim dipraktekkan, khususnya di Indonesia, maka semua institusi yang berlebelkan Islam harus dihapus. Karena Islam tidak boleh diinstitusikan, maka seluruh institusi-institusi negara yang mengatasnamakan Islam harus dibubarkan. Bank Islam, Departemen Agama, sekolah-sekolah Islam, peradilan agama, Majlis Ulama Indonesia, PPP, PKS, PBB, PKB, dan semua orpol, universitas dan organisasi keagamaan yang berlandaskan Islam, termasuk Muhammadiyah dan UIN yang membesarkan kedua tokoh kita ini harus dibubarkan.Semoga beliau berdua dapat memahami hal ini atau bahkan malah nekat menjadi orang pertama di Indonesia yang akan diabadikan dalam sejarah sebagai tokoh yang mempelopori pembubaran semua institusi yang berlandaskan atau membawa aspirasi dan justifikasi Islam? Wal iyadz billah Penulis alumnus Pondok Modern Gontor, penulis “Al-Qur’an Dihujat”Sumber : http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5137&Itemid=1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s