JAWABAN BUAT PENDETA ORENG MADURE

Dalam rangka menjala umat Islam Madura, Pendeta Edhie Sapto dan Pendeta Yosua Adhie mengimbau kepada umat Kristiani agar penginjilan dilakukan dengan metode perbandingan Alkitab (Bibel) bahasa Arab dan Al-Qur‘an. Alkitab bahasa Arab diperlukan dalam penginjilan karena orang Madura akan mengakui bahwa Alkitab bahasa Arab adalah kitab asli. Ini belum cukup, tapi harus ditunjang dengan lagu-lagu qasidah bahasa Arab dengan irama padang pasir yang syairnya dikutip dari ayat-ayat Alkitab. Qasidah ini diperlukan karena orang Madura senang mendengarnya. “Mereka senang mendengarnya dan akhirnya berita Injil tersebar, banyak jiwa-jiwa bertobat dan nama Tuhan dipermuliakan,” tulisnya.

Dalam rangka perbandingan Alkitab dan Al-Qur‘an itulah, majalah Midrash Talmiddim banyak mengutip ayat-ayat Al-Qur‘an. Kutipannya terkadang tepat, tapi metode pemahamannya dirusak, bahkan tak jarang pengertiannya diselewengkan untuk melecehkan Allah dan Rasulullah. Setelah terkesan bahwa ayat Al-Qur‘an itu lemah, Edhie dan Yosua memberikan solusi berupa ayat-ayat Alkitab. Kesimpulannya, Alkitab jauh lebih hebat daripada Al-Qur‘an; Kristen jauh lebih unggul daripada Islam.

Nabi Muhammad Dituduh Pernah Kafir

Nabi Muhammad difitnah sebagai orang yang pernah bergabung dalam ibadah orang kafir. Buktinya Nabi Muhammad pernah ibadah dengan cara semedi di goa (edisi 3 hal. 25).

Penghujatan ini sama sekali tidak berdasar dan tidak didukung oleh data yang akurat. Karena sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad sepanjang hayatnya selalu berlaku jujur, tak pernah berbohong, tak pernah mengikuti adat-istiadat masyarakat jahiliyah baik minum-minuman keras, main perempuan maupun menyembah berhala. Semua itu dijauhi oleh Muhammad sampai akhir hayatnya.

Dalam kondisi masyarakat jahiliyah itu, Muhammad SAW bertahanuts (mempersiapkan diri) di tempat yang tenang yaitu gua Hira yang terletak di Jabal Nur (bukit cahaya). Di tempat ini, dengan pikiran yang jernih dan tenang, beliau merenungkan tentang pencipta alam raya. Langkah ini pun dituntun oleh wahyu Allah. Karena sebelum diangkat sebagai nabi, beliau sudah diberi wahyu berupa ruh Al-Qur‘an. (Qs. As-Syura 52 dan Ad-Dhuha 7).

Muhammad adalah nabi yang dipuji oleh Allah SWT sebagai pribadi yang benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Qs. Al-Qalam 4); diberi pahala yang besar yang tidak putus-putusnya” (Al-Qalam 3); ditinggikan derajatnya” (Alam Nasyrah 4); nabi pamungkas (Ali Imran 144, At-Taubah 33, Al-Ahzab 40); dan nabi yang diutus untuk seluruh umat manusia (Al-Anbiya‘ 107).

Nabi Muhammad Dituduh Pemarah

Selanjutnya, kedua pendeta itu memfitnah Nabi Muhammad sebagai orang pemarah yang membuat ayat Al-Qur‘an untuk melampiaskan kemarahan kepada orang Yahudi lantaran mereka tidak mau mengakui kenabiannya.

Mereka menulis: “Setelah Muhammad meyakinkan dirinya menerima wahyu dan menjadi seorang nabi, maka mulailah secara serius menceritakan pengalaman-pengalamannya kepada orang-orang Yahudi yang menguasai tempat-tempat ibadah. Tetapi cerita Muhammad tidak ditanggapi dengan baik, malahan menjadi cemoohan. Muhammad menjadi marah dan gusar kepada orang Yahudi dan mulai memusuhi mereka. Muhammad memusuhi orang Yahudi karena kenabiannya diragukan dan tidak diterima. Untuk mengantisipasi ejekan Yahudi ini, maka Muhammad menerapkan strategi dengan mengatakan Yahudi itu musuh yang harus dimusnahkan” (Qur’an surat 2:89)” (edisi 4 hal. 22).

Itulah teologi khayalan Pendeta Madura. Darimana dia bisa menyimpulkan bahwa surat Al-Baqarah 89 menyatakan Yahudi sebagai musuh yang harus dimusnahkan? Padahal pada ayat tersebut tidak ada kata “memusnahkan.” Perhatikan kutipan ayat selengkapnya:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.”

Soal permusuhan kepada Yahudi, juh sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW, mereka telah dilaknat oleh Allah SWT melalui lisan Nabi Daud dan Isa AS karena perilaku yang durhaka dan melampaui batas” (Qs. Al-Ma‘idah 78). Bani Israel memang layak dilaknat karena mereka sangat durhaka, sampai-sampai mereka berani membunuh nabi utusan Allah (Qs. Al-Baqarah 61).

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى

“Laknat Allah kepada Yahudi dan Nasrani” (Muttafaqun ‘alaihi).
Seharusnya Pendeta Edhie Sapto ingat, dan tidak jangan melupakan betapa durhakanya Yahudi, sehingga mereka pun ingin membunuh Nabi Isa AS yang oleh orang Kristen disebut Yesus Kristus dan dianggap sebagai tuhan (Qs. An-Nisa‘ 157). Dalam Injil pun Yesus mencela mereka dengan panggilan “Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak!” (Matius 23:33).

Allah Dikatakan Tidak Maha Pengampun

Dalam artikel 6 halaman berjudul “Mengapa Allah Menyesatkan Orang?” Edhie mengutip ayat-ayat Al-Qur’an secara parsial lalu disimpulkan bahwa Allah dalam Al-Qur’an itu tidak Maha Pengampun karena tidak memberikan ampunan-Nya.

Dalam sub judul “Allah Maha Pengampun, tidak memberi ampunan,” Edhie Sapto mengutip Al-Qur’an surat An-Nisa 106, Muhammad 19 dan Al-Mu`minun 109. Selanjutnya ia menulis: “Namun sayang Allah tidak memberi ampun. Qs. 9 At-Taubah 80: Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Edisi 4 hal. 17).

Pendeta Madura yang satu ini benar-benar licik. Ketika membaca ayat, perhatiannya hanya tertuju kepada kalimat “namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.” Sehingga dengan seenaknya dia simpulkan bahwa Allah dalam konsep Al-Qur’an itu tidak Maha Pengampun. Padahal jika dipahami secara utuh, sambungan ayat tersebut jelas menyatakan bahwa orang yang tidak diampuni adalah orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada masalah sedikit pun dalam ayat tersebut. Allah tidak mengampuni orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan berarti Allah tidak Maha Pengampun, melainkan satu kewajaran yang sudah demikian semestinya. Justru tidak adil jika Allah mengampuni orang kafir yang tidak bertaubat. Dalam kitab-kitab suci, Tuhan memang Maha Pengampun, tapi tidak semua orang diampuni karena ada sebab-sebab yang menolak ampunan Tuhan. Salah satu hal yang menolak ampunan Allah adalah kekafiran dan kemusyrikan (Qs. Muhammad 34, An-Nisa 48, 116).

Jika realita bahwa Tuhan tidak mengampuni orang kafir lalu disimpulkan bahwa Tuhan tidak Maha Pengampun, betapa cerobohnya penafsiran ini. Seharusnya Edhie Sapto malu menyelewengkan kitab suci orang dengan analisa miring bahwa Tuhan tidak Maha Pengampun. Sebab jika pisau analisa itu diterapkan kepada Alkitab (Bibel), kitab suci kristiani, maka hal serupa pun akan terjadi. Karena Bibel pun menyebutkan adanya orang yang tidak diampuni oleh Tuhan:

“Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni” (Matius 12:31, Lukas 12:10). Dalam ayat yang lain, dosa manusia yang tak diampuni itu disebut sebagai “dosa kekal” (Markus 3:29).

Tuhan juga tidak mengampuni orang yang tidak mau memaafkan kesalahan orang (Matius 6:15). Dalam Perjanjian Lama, Nabi Yeremia berdoa kepada Tuhan agar tidak mengampuni kesalahan orang yang akan membunuhnya (Yeremia 18:23).

Jika metode berpikir Pendeta Edhie Sapto dipakai untuk menafsirkan Bibel, maka kesimpulannya adalah Tuhan yang disembah orang Kristen dalam Bibel tidak Maha Pengampun karena tidak mengampuni orang.

Umat Islam meyakini sepenuhnya bahwa Allah itu Maha Pengampun.

قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Qs. Az-Zumar 53).

Rasulullah SAW bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh jagad, sedangkan kamu ketika mati berada dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh jagad pula” (HR. At-Tirmidzi).

Betapa luasnya rahmat dan ampunan Allah SWT sesuai dengan nama-Nya “Al-Ghaffaar” dan (Maha Pemberi Ampunan) dan “Al-Ghafuur” (Maha Pengampun). Inilah yang belum dipahami oleh Edhie Sapto.

Allah SWT Dilecehkan sebagai Penyesat
Sebelum memulai artikel enam halaman berjudul “Mengapa Allah Menyesatkan Orang?”, Edhie Sapto membuat ilustrasi sbb:

“Pernahkah anda pergi ke suatu rumah teman dan hanya mempunyai alamat yang kurang jelas, lalu anda bertanya kepada orang tentang alamat tersebut. Dan anda yakin akan orang itu. Ternyata informasi itu salah dan membuat tersesat karena orang itu telah menyesatkan anda… Bagaimana seandainya yang menyesatkan dan tidak mau mengampuni itu Allah? Benarkah Allah menyesatkan dan tidak mau mengampuni?” (Edisi 4 hal. 15).

Kedua pertanyaan tersebut dijawab sendiri dengan kutipan empat buah ayat Al-Qur‘an, antara lain:

وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ وَلِيٍّ مِنْ بَعْدِهِ وَتَرَى الظَّالِمِيْنَ لَمَّا رَأَوُاْ الْعَذَابَ يَقُوْلُوْنَ هَلْ إِلَى مَرَدٍ مِنْ سَبِيْلٍ

“Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: “Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?” (Qs. Asy-Syura 44).

Dengan tata letak tulisan seperti ini, Pendeta Edhie Sapto ingin menyatakan bahwa Allah yang disembah setiap hari oleh umat Islam itu menyesatkan manusia.

Analisa ini jelas batil dan menyimpang jauh dari konteks karena ketika membaca ayat tersebut, mata Edhie Sapto hanya terpaku pada kalimat “Dan siapa yang disesatkan Allah.” Padahal bila dibaca utuh, ayat tersebut berbicara tentang keadaan orang yang zalim. Dan pada ayat berikutnya (ayat 45) disebutkan bahwa orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal (fii ‘adzaabin muqiim).

Kenyataan bahwa Allah menyesatkan dan menyiksa orang-orang yang zalim dengan azab yang kekal, bukanlah suatu hal yang musykil. Dan tidak boleh dipahami bahwa Allah itu tidak Maha Pengasih dan Penyayang, seperti ajaran Edhie Sapto.

Dalam Al-Qur‘an secara tegas Allah menyatakan bahwa Dia menyesatkan orang-orang yang zalim” (Qs. Ibrahim 27) dan tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (Qs. Al-An’am 144, Al-Qashash 50, Ali Imran 86, At-Taubah 19, Ash-Shaff 7,) serta melaknat (mengutuk) orang-orang zalim (Qs. Al-A’raf 44, Hud 18). Akibatnya, kelak di hari Akhirat orang zalim itu dimasukkan ke neraka (Qs. An-Nisa‘ 30).

Predikat buruk itu disandang karena mereka memang berada dalam kesesatan yang nyata” (Qs. Maryam 38, Luqman 11). Beberapa karakteristik kaum zalim antara lain: membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia (Qs. Al-An’am 144), berbuat fasik (Qs. Al-Baqarah 59, Al-A’raf 165), menghalang-halangi manusia dari menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya (Qs. Al-Baqarah 114), membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya (Qs. Al-An’am 21, Hud 18). Prototipe zalim ini digambarkan dalam sosok Firaun dan pengikut-pengikutnya. Mereka orang-orang yang zalim yang dibinasakan Allah karena mendustakan ayat-ayat Ilahi (Qs. Al-Anfal 54).

Jadi, Allah memasukkan orang zalim ke dalam neraka, bukan karena Allah tidak Maha Pengasih, melainkan karena Allah Maha Adil dengan membalas manusia sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing. Orang zalim harus mendapat siksa di neraka karena tindakan mereka yang merugikan dirinya sendiri dengan selalu menzalimi (mengingkari) ayat-ayat Kami” (Qs. Al-A’raf 9).

Selain itu, masih banyak golongan manusia yang disesatkan oleh Allah, antara lain:

Pertama, Orang fasik, sesuai dengan firman-Nya:

وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ

“…Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik” (Qs. Al-Baqarah 26).

Orang-orang fasik itu memutuskan perkara tidak berdasarkan hukum Allah (Qs. Al-Ma‘idah 47), melanggar perjanjian Allah dan membuat kerusakan di muka bumi (Qs. Al-Baqarah 27).
Kedua, Orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu, sesuai dengan nas Al-Qur‘an:

كَذَلِكَ يُضِلُّ اللهُ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ

“…Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu” (Qs. Al-Mukmin 34).

Ketiga, Allah menyesatkan orang-orang kafir, berdasarkan firman-Nya:

كَذَلِكَ يُضِلُّ اللهُ اْلكَافِرِيْنَ

“…Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir” (Qs. Al-Mu`min 74).

Orang kafir mengikuti yang batil dan menghalangi manusia dari jalan Allah (Qs. Muhammad 1-3), serta benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur‘an) (Qs. Muhammad 9). Umat Nasrani disebut kafir karena mempertuhankan Nabi Isa (Al-Ma‘idah 17 dan 72).

Jelaslah bahwa Allah menyesatkan golongan orang-orang zalim, fasik, kafir dan orang yang melampaui batas karena mereka sendiri telah menolak dan menentang kebenaran ayat-ayat Allah.

وَمَا ظَلَمَهُمُ اللهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

“… Allah tidak menzalimi (menganiaya) mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi (menganiaya) diri mereka sendiri” (Qs. Ali Imran 117).

Seharusnya kedua pendeta radikal itu tidak merasa musykil terhadap ayat-ayat Al-Qur‘an yang menyatakan kesesatan kaum yang zalim, fasik dan kafir. Karena dalam Alkitab (Bibel) sendiri terdapat banyak ayat-ayat yang musykil. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyuruh nabi-Nya untuk menikahi seorang pelacur:

“Ketika Tuhan pertama kali berbicara kepada bangsa Israel dengan perantaraanku, Tuhan berkata, “Hosea, kawinilah seorang yang suka melacur, dan anak-anakmu juga akan menjadi seperti dia. Umat-Ku sama seperti istrimu itu; mereka tidak setia kepada-Ku, dan meninggalkan Aku” (Hosea 1:2, Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari).

“Seorang imam tak boleh kawin dengan seorang wanita bekas pelacur atau seorang wanita yang bukan perawan atau yang sudah bercerai, karena imam adalah milik-Ku” (Imamat 21:7).

Kemusykilan ayat ini sudah diakui pula oleh teolog Kristen sendiri. Walter C Kaiser Jr, dekan dan wakil presiden pendidikan di Trinity Evangelical Divinity School meletakkan ayat musykil ini dalam satu bab khusus dalam bukunya “Hard Sayings of the Old Testament.”

Pendeta Jahil Murakkab

Kelancangan Edhie dan Yosua yang sangat naif adalah pendirian Pusat Pelatihan Bahasa Arab Gratis Metode Pesantren. Ilmu bahasa mereka sungguh miskin, tapi berani mendirikan pusat bahasa. Ini bukan mencerahkan tapi pembodohan. Hampir semua pelajaran bahasa Arab dalam majalah mengandung kesalahan, baik salah penulisan maupun kaidah bahasa. Misalnya, dalam salah satu percakapan bahasa Arab disebutkan: “Roujatii tufaddhilu al-majallah asy-sya’biyyah rohaani katsibron” yang diterjemahkan: “istri saya lebih suka majalah Rohani.” Bahasa Arab ini bukan metode Pesantren, melainkan metode bahlul pendeta yang awam bahasa. Seharusnya bahasa Arab yang benar adalah, “Zaujatii tufaddhilu al-majallah ad-diiniyyah katsiiron.”

Qasidah kristiani pun tak kalah ngawurnya. Kata “al-qudrotu” dan “al-hayatu” yang seharusnya ditulis dengan huruf ta’ marbuthoh (tertutup) justru ditulis dengan huruf ta’ maftuhah (terbuka). Kata “almasiihu” ditulis tanpa memakai huruf “ya”. Kata “ath-thoriiqu” yang seharusnya “ma’rifah” (definite) ditulis “nakirah” (indefinite). Kata “al-hayaatu” yang sudah jelas ma’rifat, dijadikan mudhof (disandarkan) pada dhomir (kata ganti) “hu” (dia).

Kedua pendeta radikal itu menganggap, umat islam akan tertipu dengan hal-hal yang berbau Arab. Padahal, umat Islam tak sebodoh itu. Umat Islam justru akan tertawa, mencibir lantunan sang penginjil ini.

Dengan ilmu yang dijajakan, kedua pendeta radikal itu tidak akan memajukan umat. Karena mereka adalah “pendeta buduh ngakoh alem.” sabili/mai, mag

Melayani diskusi & konsultasi berbagai kasus Islam dan Kristen. Kontak: 0815.8787.627/021.709.848.49

Advertisements

2 responses to “JAWABAN BUAT PENDETA ORENG MADURE

  1. saya tidak mengakui klo dia orang madura, keyakinan orang madura tidak lembek seperti Cong Edi,
    asalnya aja pembunuh bayaran, kok berani-beraninya mengoreksi al-Qur’an , heh … dapat ilmu dari mana ?????
    dari roh kudus, haaahaahaaa bikin saya ketawa …,

    ———————————————————————————
    salaa la deddih pembunuh bejeren,
    abejeng apa enje’ bektoh gi’ islammah ??
    ngajinah ghendimmah ma’ wak-matowwa’ah ???

    makkanneh bektoh gi’islammah , mon tedung becah du’a gellu, abejeng pa bejeng, edikker teros dha’ ka Allah, le tak e pangarohi so orang-orang iblis ben kanca-kancana
    ———————————————————————————

    🙂 :):)
    ———————————————————————————

  2. binramelan binkazanmurawi

    INJIL THOMAS & NASKAH LAUT MATI.

    Pada pertengahan abad 20, sekitar setengah abad yang lalu, terdapat dua penemuan arkeologi yang menggemparkan bagi dunia Kristen. Pertama, penemuan teks Injil Thomas di Nag Hamadi-Mesir pada tahun 1945. Dua tahun setelahnya, 1947, terjadi penemuan kedua berupa gulungan manuskrip di Qumran dekat Laut Mati, yang kemudian dikenal dengan Gulungan Laut Mati (the Dead Sea Scrolls).

    Bagi sebagian orang, dua peristiwa besar ini juga penemuan-penemuan arkeologis lain yang berkaitan, terkadang disikapi sebagai peristiwa biasa yang menghiasi majalah dan koran-koran. Di Barat – di Indonesia informasi tentang hal ini amatlah jarang ditemukan. Namun jika kita mengikuti perintah Allah dalam al-Qur’an agar kita selalu melihat dan merenungkan kejadian di dunia ini, maka dua penemuan itu menjadi hal yang sangat luar biasa, apalagi bagi para pengkaji agama, khususnya bagi mereka yang getol menyuarakan paham pluralisme agama. Sebab dua penemuan tersebut tidaklah berhenti sebatas penemuan arkeologi, namun berlanjut pada kajian-kajian yang berpengaruh terhadap mainstream kehidupan beragama bagi pemeluk agama tertentu (Kristiani) yang pada gilirannya mempengaruhi hubungan antar agama, khususnya pada kedekatan pemahaman teologis.
    Nag Hamadi dan Qumran.
    Desember 1945, Seorang Mesir bernama Muhammad Ali pergi ke sebuah karang di tepian sungai Nile, di pedalaman Mesir dekat wilayah Nag Hamadi. Menemukan Gentong (bejana dari tanah liat) yang nyata terlihat sangat kuno dan asli. Dalam gentong tersebut terdapat 13 lembar kulit, berisi 50 risalah. Pada bagian akhir dari risalah kedua di codex II koleksi risalah, terdapat’sebuah judul tek yang telah hilang selama ribuan tahun: Peuaqqelion Pkata Thomas, Injil menurut Thomas, atau Injil Thomas. Manuskrip Koptik berisikan Injil Thomas berasal dari tahun 350 masehi, sementara fragmen Yunani berasal dari tahun 200 M. Injil Thomas ini diperkirakan dari tahun 100 M, edisi paling awal diperkirakan dari tahun 50-60 M.

    Perlu diketahui bahwa Injil Thomas tidak berbentuk cerita naratif seperti 4 Injil lainnya, namun berisi perkataan-perkataan Yesus, kalau dibaca oleh seorang Muslim tampak seperti penulisan Hadits tapi tanpa sanad. Melihat tingkat keaslian dari Injil Thomas -walaupun dianqgap gnostik-, serta cara penyajiannya, para sarjana Bible mulai mengkaji dengan cara membandingkan isinya dengan 4 Injil sinoptik yang diakui oleh Gereja (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Semangat yang mereka bawa adalah, menjawab pertanyaan umum: “Apa sebenarnya yang disabdakan oleh Yesus?” Dari kajian 75 sarjana Bible terkemuka yang bersidang selama 6 tahun, keluarlah hasil kajian mereka yang dikenal melalui laporan berjudul “The Five Gospel” pada tahun 1993. Pertanyaan itu akhirnya terjawab dalam sebuah kesimpulan dalam laporan mereka bahwa, dari Injil-Injil yang ada, hanya terdapat 18% saja yang diperkirakan asli perkataan Yesus, sementara sisanya….?. Hasil kajian ini tentu saja membuat geger dunia Kristen. Lain dari pada itu, satu hal yang patut dicatat bahwa, dari 114 sabda Yesus dalam Injil Thomas, tidak satupun ada pernyataan ataupun isyarat terhadap doktrin “penyaliban” atau penebusan dosa melalui kematian Yesus di tiang kayu salib.
    Penemuan kedua tahun, 1947 di Qumran, oleh seorang anak (penggembala kambing) bernama Muhammad Ad-Dib. Gulungan manuskrip yang ditemukan berisi tulisan kitab Perjanjian Lama, oleh sebuah komunitas yang diidentifikasi sebagai salah satu sekte Yahudi, yaitu sekte Esenes. Tulisan-tulisan mereka memberikan gambaran tentang masa-masa awal sejarah Kristen, keterkaitan gerakan Nazaren (pengikut Yesus dari Nazaret) dengan sekte Esenes, dalam komunitas ini terdapat seorang Nabi yang sezaman dengan Yesus yaitu Yahya As, atau Yohanes Pembabtis-menurut tradisi Kristen. Penemuan arkeologi ini akhirnya mendorong sekian banyak pemerhati Kristologi untuk mengkaji naskah-naskah tersebut. Beragam kajian dari masing-masing peneliti mulai bermunculan, baik para peneliti Barat maupun Timur. Buku yang ada dihadapan pembaca ini adalah salah satu hasil penelitian oleh pemerhati dari Mesir. Salah satu kesimpulannya bahwa sekte Esenes berkaitan erat dengan masa awal sejarah Kristen. Ia bahkan memprediksi bahwa “Guru bijak” yang diceritakan berseberangan dengan “Pendeta jahat” dalam Naskah Gulungan Laut Mati, adalah Yesus-itu sendiri. Hal ini ia perkuat dengan kajian terhadap nama Isaiyah yang tertulis sebagai nama kelompok tersebut, sebenarnya adalah Esenes.
    Kajian-kajian tentang the Dead Sea Scrolls amatlah banyak, diantaranya yang membuat geger dunia Kristen adalah laporan Barbara Theiring, dalam bukunya “Jesus the Man”. Dari penelitiannya selama 20 tahun terhadap naskah Laut Mati, Barbara Theiring mampu menyuguhkan sosok Yesus sebagai seorang manusia, yang menikah (bahkan berpoligami), juga meninggal secara wajar dan bukan ditiang salib. Secara umum, kajian terhadap Naskah Laut Mati, lebih menempatkan Yesus sebagai sosok manusia yang pernah ada dalam sejarah, dan bukan sosok imajiner yang kemudian di mitoskan dan disembah. Setidaknya, inilah inti terpenting dari hasil kajian Naskah Laut Mati.
    Membaca kejadian alam
    Dari dua penemuan besar seperti yang kami paparkan secara singkat di atas, mungkin kita bertanya-tanya, apa sebenarnya yang sedang berlangsung disekeliling kita? Dan pertanyaan ini berkaitan erat dengan pertanyaan: Kenapa setelah 2000 tahun, naskah-naskah itu baru ditemukan? Apakah penemuan itu berkaitan dengan dengan janji Allah dalam al-Qur’an, seperti terjemah dari dua ayat di bawah ini:
    Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu arlalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (QS Fushilat 53)
    Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beherapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanrla kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (QS .Al-Maidah 75).
    Bagi umat Kristiani yang mungkin tidak meyakini kebenaran al-Qur’an, terdapat dalam Injil Thomas satu pernyataan Yesus sebagai berikut:
    Jesus said, “Know what is in front of your face, and what is hidden from you will be disclosed to you. For there is nothing hidden that will not be revealed. Jesus mengatakan, “Ketahuilah, apa yang ada dihadapanmu, dan apa yang tersembunyi darimu akan dibuka untukmu. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi kecuali akan dijelaskan. Thome 5:23
    Makna dari pernyataan Yesus/Isa As, di atas juga sejalan dengan yang ada pada Injil Lukas 12:2, Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yanq tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yanq tersembunyi yanq tidak akan diketahui. Juga pada Markus 4:22.
    Tanpa berani memastikan bahwa penemuan tersebut merupakan bukti dari janji Allah, namun sebagai seorang Muslim yang diajari al-Qur’an untuk mengkaji segala yang terjadi, kita patut meneliti dan mencari hikmah apa dibalik penemuan dari benda-benda yang sudah terkubur selama ± 2000 tahun.
    Jika kita melihat perkembang sain dan tekhnologi masa kini, di mana rasionalitas ditempatkan di urutan pertama oleh dunia barat yang telah lelah dengan keimanan kepada dogma Gereja. Maka penelitian arkeologis dapat sepenuhnya dilakukan tanpa direcoki oleh Gereja, seperti yang pernah dilakukan terhadap Galeleo pada masa dulu. Apalagi bahwa penelitian arkeologi pada masa kini dilengkapi dengan ilmu­ilmu lain yang berbasis teknologi tinggi, seperti analisa DNA, carbon dating (untuk mengetahui masa per menit dari sampel yang dikaji), Satelit (untuk melihat outline dari daerah lokasi penemuan), serta tes kimia.

    Adalah hikmah dari yang Maha Mengetahui, jika penemuan itu terjadi pada masa sekarang, masa dimana manusia telah siap menerima penyingkapan tabir baik secara mental (obyektifitas berdasarkan sain dan bukan kepentingan kelompok agama) serta kemampuan manusia dalam memahami penyingkapan tersebut berdasarkan ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki. Sebab, -mungkin- jika ditemukan pada masa-masa dulu, “kepentingan” dan “ketidakmampuan”lah yang berbicara, maka manuskrip-manuskrip itu hanya tersimpan dan mungkin tidak akan diketahui oleh umum, atau hilang lagi entah kemana. Hal yang sama telah terjadi pada Injil Barnabas yang oleh kalangan Gereja dianggap sebagai hasil bikinan seorang Muslim di [tali, sehingga kita tidak tahu apakah Injil Barnabas tersebut asli atau bukan, ia menjadi kurang bermakna -bisa disebut hilang- karena kehilangan otentisitasnya.Namun demikian, proses pengkajian Gulungan Laut Mati oleh para peneliti dari satu institusi agama dan pemerintah tertentu, telah menodai semangat keilmiahan sebagaimana yang diharapkan oleh para pemerhati, seperti yang diungkap dalam buku ini. Namun yang sedikit itupun telah mampu membawa perubahan.
    Hikmah bagi kaum Muslim
    Dalam pergaulan antar agama, terkait isu pluralisme agama yang dihembuskan oleh Barat dan diimani oleh dunia Islam, umat muslim hendaklah mampu melihat dirinya berdasarkan hal-hal yang terjadi, serta kecenderungan pada agama-agama lain yang sedang berkembang dewasa ini. Berkaitan dengan dunia Kristen, penemuan dua buah naskah sebagaimana yang kita bahas di atas, telah membawa dunia Kristen pada pengakuan akan adanya satu sesembahan saja. Artinya, penemuan yanq memperkuat kedudukan Yesus sebagai seorang manusia biasa -seperti nabi dan rasul-rasul yang lainnya-, akan mengeluarkan Yesus dari jajaran Trinitas yang diajarkan sebagai dogma oleh Gereja. Entah apa lagi yang akan terjadi sehingga Roh Kudus pun akan ditempatkan pada posisi yang sebenarnya, sebagai Malaikat. Kalaupun hal ini belum bersifat final, namun kajian kristologi sedang mengarah ke titik ini. Tanpa campur tangan kaum muslim pun, kedewasaan rasional manusia akan membawa kepada keyakinan terhadap adanya satu Tuhan saja yang patut disembah dan tidak terbagi-bagi dalam beberapa pribadi, seperti yang diserukan oleh otoritas Kristen. Saya katakan “otoritas”, sebab kenyafaanya tidak semua umat kristiani memahami doktrin trinitas, para pendetanya pun kebanyakan menerimanya sebagai dogma dengan mengorbankan segala rasio yang dimilikinya.
    Kini dengan isu pluralisme beragama umat muslim dengan riang menyatakan bahwa teologi gereja yang tidak mampu ditembus rasio, dinyatakan benar dan sama monoteisnya dengan keyakinan umat Muslim. Ada baiknya, mereka yang menyamakan teologi Islam dan Kristen mengkaji lagi makna monoteisme menaruttradisi dan kaca mata gereja, bukan dengan kacamata kita sendiri, maka kita akan tahu perbedaanya, apa makna monoteisme menurut Kristen dan apa maknanya menurut umat Islam.
    Kecenderungan di dalam komunitas Barat kepada keyakinan akan adanya satu Tuhan saja, sebagai satu-satunya sesembahan, sebenarnya sejalan denqan seruan al-Qur’an dalam kerangka pergaulan antar agama, yaitu:
    Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka kutakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) “. (Ali Imran 64).
    Maka, menurut hemat kami, umat muslim tidak perlu menyamakan teologinya dengan yang lain, cukup menyeru kepada mereka, satu seruan yang bersifat universal dan sesuai fitrah manusia sebagai makhluq, untuk kembali kepada satu­satunya Pencipta manusia dan alam sekitarnya. Sedang soal ritual dan masalah fikh, maka yang berlaku adalah “lakum diinukum waliyadiin”, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s