JALAN PANJANG MENUJU KHILAFAH ISLAMIYAH

JALAN PANJANG MENUJU KHILAFAH ISLAMIYAH

Berikut ini adalah berita Konferensi Khilafah Internasional yang pernah diselenggarakan di Jakarta 28 Mei 2000. Tulisan ini pernah dimuat di koran Republika, 31 Mei 2000. Untuk mengenang momen bersejarah tersebut, sekaligus untuk menyongsong Konferensi Khilafah Internasional di Jakarta 12 Agustus 2007 ini, redaksi menyajikan tulisan ini untuk Anda.Stadion Tenis Indoor Senayan Jakarta Ahad (28/5/2000) pagi, ratusan massa berkumpul dan duduk teratur. Yang pria duduk di sisi sebelah kiri. Sedangkan wanita, hampir semuanya berkerudung, duduk di sisi sebelah kanan.

Ceritanya, pagi hingga siang itu, berlangsung sebuah konferensi internasional. Dari empat pembicara yang duduk di depan, seorang berasal dari Australia (Ustadz Ismail Al Wahwah), seorang dari Malaysia (Ustadz Dr Sharifuddin M Zain), dan dua orang lagi dari Indonesia (Ustadz KH dr Muhammad Usman dan Ustadz KH M Al Khaththath).

Meskipun konferensi itu bertaraf internasional, tetapi tak terlihat bendera negara peserta terpampang di sana. Tak ada merah putih, tak ada bulan sabit dan bintang, juga tak ada warna biru berbintang. Yang ada cuma bendera hitam bertuliskan kalimat La illaha illallah yang dipampang di sana-sini.

Memang, tujuan konferensi itu bukan untuk menonjolkan negara dalam satu perbedaan. Seperti mengkotak-kotak sesuatu yang dahulu sudah dipersatukan dalam persamaan ideologi, menjadi terpisah-pisah dalam garis kebangsaaan. Malah sebaliknya, konferensi itu ingin menonjolkan satu kesamaan dan membuang jauh-jauh ide-ide nasionalisme.

Konferensi bertajuk Khilafah Islamiyah itu diselenggarakan oleh sebuah partai politik berideologi Islam yang menamakan dirinya Hizbut Tahrir. Tak aneh bila partai ini menggagas ide pembentukan khilafah Islamiyah. Karena menurut salah seorang anggota partai ini, Muhammad Al Khaththath, tujuan partai ini memang ke arah itu.

“Kami ingin melanjutkan kehidupan Islam dan memahami bahwasanya problematika utama yang menimpa kaum Muslimin saat ini disebabkan tidak diterapkannya hukum-hukum Islam di tengah masyarakat. Dan satu-satunya wadah yang mampu menjamin penerapan sistem dan hukum-hukum Islam secara total di tengah-tengah masyarakaat hanyalah khilafah al Islamiyah,” ungkapnya.

Berbicara soal keinginan mendirikan satu kekhalifahan, Hizbut Tahrir yang juga banyak terdapat di beberapa negara Islam, bukan yang pertama dan satu-satunya yang bercita-cita mendirikan kekhalifahan Islam. Sejak lama keinginan seperti itu sudah muncul. Seperti yang pernah digagas oleh tokoh pembaharu Islam dari Mesir, Hasan Al Banna, dengan kelompoknya Ikhwanul Muslimin. Sayangnya, sebelum cita-cita ini kesampaian, Al Banna keburu meninggal dunia.

Terlepas dari siapa yang menggagasnya, semua orang Islam pasti mendambakan suatu pemerintahan global yang benar-benar berpegang teguh pada ketentuan Islam. Terlebih melihat kondisi umat Islam yang sekarang ini tercabik-cabik setelah runtuhnya kekhalifahan Islam terakhir tahun 1924.

Siapa yang menduga, wilayah Islam yang dulu terbentang sangat luas meliputi seluruh jazirah Arab, Syam, Turki, Semenanjung Balkan, Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika bagian utara, bahkan sampai ke Eropa bagian barat, bisa terpecah-pecah menjadi lebih dari 50 negara-negara kecil. Ironisnya, antara yang satu dengan yang lain, dalam batas-batas tertentu sudah tak ada kepedulian. Hubungan kebersamaan akidah diganti dengan hubungan bertetangga. Masing-masing mereka dibentengi oleh perasaan nasionalisme.

Kata nasionalisme inilah yang dituding oleh KH dr Muhammad Usman, salah satu pembicara dalam konferensi tersebut sebagai biang pecahnya umat Islam. ”Persoalan tanah Palestina yang hingga kini masih diduduki dan dikuasai oleh Yahudi merupakan bukti nyata akibat nasionalisme,” ungkapnya.

Bercerita soal Palestina dan Yahudi, yang muncul memang kisah duka tentang sebuah bangsa yang disisihkan. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun tanah Palestina dirampas dan penduduknya diusir bahkan dibantai oleh bangsa Zionis ini, namun hingga kini belum ada tanda-tanda penyelesaian. Kaum Muslimin yang berjumlah 1,4 miliar seakan tak berdaya berhadapan dengan bangsa Yahudi yang jumlahnya cuma segelintir.

Malah, negara-negara Muslim atau negara yang penduduknya didominasi kaum Muslim saling berlomba-lomba memberikan keabsahan kepada Israel. Mereka membuka hubungan diplomatik. Bahkan tak merasa risih bekerjasama dengan negara yang telah membantai saudaranya sendiri itu.

Ini cuma satu contoh. Contoh lain, bagaimana bangsa Chechnya dan Dagestan harus berjuang sendiri dengan senjata seadanya menghadapi gempuran pesawat-pesawat tempur canggih tentara Rusia. Demikian pula di Bosnia dan Kosovo, di Moro, China, Vietnam, Kashmir, Ambon, dan sebagainya.

Lebih dari itu, sambung Usman, nasionalisme bukan hanya membuat kaum Muslimin bersikap individualistik. Tetapi juga rentan memunculkan konflik antara sesama umat Islam sendiri. Ini karena benturan kepentingan. Lihatlah perseteruan antara Suriah dengan Turki tentang daerah Liwaul Iskandariah, atau perang antara Irak dan Iran yang memperebutkan Pulau Abi Musa, Tambul Besar, dan Pulau Ton.

Persoalan lain, negara-negara berpenduduk Muslim umumnya tergantung pada negara-negara berpenduduk non-Muslim. Pemerintahan negara berpenduduk Muslim tak punya kedaulatan penuh. Untuk berbagai urusan penting, mereka menyerahkan keputusannya kepada sang ‘majikan’. Lihatlah Indonesia. Sebagian besar kebijakan ekonomi dan juga politik, senantiasa membebek dengan kepentingan IMF.

Dalam hal akidah dan pemikiran, banyak kaum Muslimin di berbagai belahan dunia yang terpesona dengan ide-ide kufur. Belum lagi pembenaran kepada sesuatu yang menjurus ke arah kemaksiatan, seperti pergaulan bebas atau tontonan-tontonan vulgar. Demikian juga dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam masih sangat tertinggal. Semua itu menambah daftar panjang problematika yang dihadapi umat Islam saat ini.

Sehubungan dengan keinginan mendirikan Khilafah al Islamiyah, tentu banyak pertanyaan yang kemudian muncul. Seperti juga yang terlontar dalam konferensi tersebut. Misalnya, bila nanti berdiri kira-kira siapa yang paling tepat untuk dibaiat menjadi khalifah? Negara mana yang paling tepat sebagai pusat kekhalifahan? Bagaimana merangkul demikian banyak golongan dalam Islam?

Selalu kandasTak sedikit pula yang merasa pesimis dengan keinginan ini. Alasan mereka, sudah sedemikian sering keinginan seperti ini terlontar tetapi selalu saja kandas di tengah jalan. Selain itu, banyak negara yang mengklaim dirinya sebagai negara Islam toh tetap saja tidak mampu membangun dirinya sendiri. Ada juga yang berpendapat kondisi riil umat Islam saat ini sudah demikian kompleks, sehingga akan banyak persinggungan kepentingan antara negara dan khilafah.

Setidaknya ada dua pendekatan untuk menjelaskan mengapa kekhalifahan tersebut perlu dibentuk. Pertama, hukum syara’. Kedua, harapan bahwa dengan khilafah ini segala problematika umat Islam bisa terpecahkan.

Menurut Ismail Al Wahwah, ulama Islam dari Australia, mendirikan khilafah itu wajib hukumnya. Ia mengambil dalil beberapa ayat Alquran yang menginginkan umat Islam sebagai satu kesatuan dalam negara yang satu, di bawah kepemimpinan imam yang satu, yang memerintah dengan peraturan yang satu yang berasal dari syariat Allah SWT.

Seperti yang terungkap dalam QS Al-Hujuraat: 10 yang menyatakan, umat Islam satu dengan yang lain sesungguhnya adalah saudara. Kemudian dalam QS Ali Imran: 103 disebut juga bahwa umat Islam seluruhnya harus berpegang pada agama Allah dan tidak boleh bercerai berai.

Selanjutnya segala perkara harus diputuskan menurut apa yang diturunkan Allah, seperti yang dituntun dalam QS Al-Maa’idah 44, 45, 47. Karena Islam adalah sebuah agama yang dari akidahnya terlahir peraturan kehidupan yang sempurna. Yang mengatur urusan-urusan individu – dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, dan muamalat – dan mengatur urusan pemerintahan dalam aspek pemerintahan, ekonomi, sosial, jihad, hubungan internasional, ‘uqubat, dan lain-lain.

Pendekatan kedua tampaknya tak perlu diragukan. Setidaknya ada harapan bahwa problematika umat Islam sedunia akan bisa tertanggulangi dengan adanya kekhalifahan yang menjamin terlaksananya syariat Islam secara total.

Hanya saja prosesnya butuh waktu. Jelas tak mungkin terbentuk dalam waktu dekat. Tak cukup juga dengan berkoar-koar menyatakan kekhalifahan itu perlu, tapi tak mengetahui bagaimana tahap demi tahap mewujudkannya. Barangkali harus dimulai dari sebuah keluarga. Kumpulan-kumpulan keluarga Muslim yang sepaham ini akan melebar hingga memegang kendali sebuah negara. Barulah kumpulan dari negara ini akan sepaham untuk membentuk satu kekhalifahan.

Tak boleh pesimis memang. Meskipun kondisi riil saat ini sangat tidak menguntungkan. Lihat saja, meskipun pemeluk agama Islam sudah terbilang banyak, tetapi di antara mereka masih bersikukuh dengan berbagai pemikiran dan perasaan. Ada yang Islami, ada yang kapitalis, ada yang sosialistik, ada yang bertolak dari nasionalisme dan patriotisme, dan tak sedikit juga yang bertolak dari semangat kesukuan atau fanatisme madzhab.

Sementara negara-negara yang katanya Islam, malah semuanya masih memberlakukan perundang-undangan dan hukum kufur. Hanya sebagian saja hukum-hukum Islam yang diambil. Seperti hukum nikah, talak, rujuk, cara memberi nafkah, waris, perwalian, atau sengketa tentang anak. Selebihnya, entah hukum dari mana diambil.

Singkatnya, cita-cita mewujudkan sebuah khilafah Islamiyah itu perlu proses dan tahapan yang jelas agar tidak kandas di tengah jalan. ”Mendirikan sebuah khilafah itu tidak dengan cara mendadak. Segala sesuatunya harus matang,” ujar dosen Pascasarjana IAIN Bandung, Dr Daud Rasyid MA.

Menurutnya, melihat kondisi umat Islam saat ini, belum ada indikasi umat sudah siap membentuk khilafah. ”Masih terlalu jauh untuk berpikir seperti itu. Pemahaman umat tentang Islam itu sendiri masih rendah. Semua ini perlu proses yang tahapan-tahapannya jelas dan harus dilalui satu persatu. Tidak bisa dengan meloncat-loncat.”

Kendati begitu ia membenarkan dengan adanya kekhilafahan, Islam akan menjadi kuat. Tetapi membentuk khilafah itu bukan hal gampang. Karena itu menurut Daud, yang perlu dilakukan saat ini adalah menumbuhkan kesadaran umat Islam tentang pentingnya khilafah. ”Ini barangkali bisa dimulai dari keluarga, lalu kelompok. Lalu ke level yang lebih tinggi lagi,” paparnya. Jadi, perlu kesabaran umat untuk membangun khilafah (Republika Online edisi :

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s