Faham Liberal

“Hasil Penelitian Depag tentang Faham Liberal Keagamaan” (1)
Menyedihkan hasil penelitian Depag terbaru tentang pluralisme agama. Al-Quran, katanya “produk budaya”. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-170
Oleh: Adian Husaini

Departemen Agama, melalui Badan Litbang dan Diklatnya, telah melakukan penelitian tentang ‘Faham-faham keagamaan liberal pada masyarakat perkotaan’. Hasil penelitian itu dipresentasikan pada 15 November 2006 di Jakarta, di hadapan sejumlah peneliti, perwakilan berbagai ormas keagamaan, dan lembaga swadaya masyarakat. Penelitian dilakukan di sejumlah kota besar: Jakarta, Medan, Yogyakarta, Bandung, Makassar, dan Surabaya. Untuk kalangan Kristen, dilakukan penelitian di Nusa Tenggara Timur dan Menado, dan untuk kasus Hindu dilakukan penelitian di Denpasar Bali.
Ketika melakukan penelitian perkembangan paham keagamaan liberal di lingkungan masyarakat Muslim, para peneliti Depag menfokuskan penelitiannya di seputar lingkungan UIN/IAIN. Di Medan, misalnya, penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara dengan sejumlah dosen IAIN Sumatera Utara. Ada sejumlah masalah yang dijadikan indikator dalam penelitian, seperti (1) masalah hubungan antara agama dengan negara, (2) masalah Pluralisme Agama, (3) masalah hak beragama, (4) kebebasan berpikir (berijtihad), (5) perkawinan beda agama dan masalah poligami, (6) masalah kebenaran, (7) Hak asasi manusia (8) masalah jender, (9) masalah demokrasi.
Ditulis dalam hasil penelitian ini: “Mengenai masalah pluralisme, mereka tidak sependapat dengan MUI sebab kalau semua agama itu sama, berarti bukan plural lagi. Plural itu artinya banyak, paham yang mengakui adanya perbedaan dalam kelompok dan masyarakat. Dengan mengembangkan paham pluralisme, menjadikan pandangan keagamaan seseorang tidak ekstrem, longgar tetapi tidak sampai menganggu keimanannya, kepanatikan berkurang dan menghargai orang lain. Memang implikasi sikap pluralisme tersebut bisa membuat iman seseorang berkurang. Untuk itu dalam mengajarkan ajaran agama untuk tingkat TK/SD ditanamkan emosi dan rasa keagamaan. Untuk tingkat SMA diajarkan tentang kemajemukan, sehingga mereka menghargai antara faham yang satu dengan faham yang lain. Menurut Amiur Nuruddin, pluralisme agama berarti semua agama mempunyai dasar dan keyakinan yang dianut oleh masing-masing penganut, dan kita menghargai masing-masing agama untuk mengembangkan ajaran agama masing-masing, jadi pluralisme tidak menganggap semua agama sama. Dalam Islam harus menerima keragaman paham keagamaan secara internal dan tidak boleh mamaksakan suatu faham kepada kelompok lain. Kalau hal ini dikembangkan akan terjadi konflik horisontal diantara umat Islam. Maka Pak Amiur tidak setuju terhadap tindakan suatu kelompok yang mengeksekusi terhadap kelompok yang dianggap sempalan.”
Itulah hasil penelitian Departemen Agama terhadap persepsi sejumlah dosen IAIN Sumatera Utara terhadap paham Pluralisme Agama. Yang disebut Pak Amiur Nuruddin adalah Dekan Fakultas Syariah IAIN Sumatera Utara. Tampak dalam penelitian itu, bahwa Dekan Fakultas Syariah itu setuju dengan paham Pluralisme Agama, dan tidak memahami masalah paham Pluralisme Agama, sebagaimana dibahas dalam studi agama-agama di dunia saat ini. Dia mendefinisikan Pluralisme Agama sebagai “paham yang mengakui adanya perbedaan dalam kelompok dan masyarakat.”
Sehingga dengan mengembangkan paham pluralisme, menjadikan pandangan keagamaan seseorang tidak ekstrem, longgar tetapi tidak sampai menganggu keimanannya, kepanatikan berkurang dan menghargai orang lain.
Kesimpulan ini sangat aneh. Pluralisme Agama, sebagaimana didefinisikan dan biasa dikaji dalam studi agama-agama, bukanlah paham yang seperti itu. Dalam fatwa MUI pun sudah ditegaskan, bahwa Islam mengakui dan menghormati perbedaan. Hanya saja, itu disebut sebagai ‘pluralitas’.
Tetapi, dalam Pluralisme Agama, — sebagaimana sering kita bahas dalam Catatan ini – agama-agama memang dipandang sama-sama sah sebagai jalan menuju Tuhan yang sama. Dalam bahasa Nurcholish Madjid, agama-agama adalah ibarat jari-jari roda yang menuju kepada pusat roda (tuhan) yang sama. Dalam bahasa Huston Smith dan Seyyed Hossen Nasr, agama-agama diibaratkan sebagai jalan yang berbeda-beda menuju ke puncak (tuhan) yang sama.
Jadi, MUI tidak salah ketika mendefinisikan bahwa Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
Karena itu, kita patut merasa heran dengan pandangan Dekan Fakultas Syariah IAIN Sumatera Utara itu tentang paham Pluralisme Agama, sebagaimana diungkap dalam hasil penelitian Depag tersebut. Ditambah lagi, redaksi yang digunakan pun bertentangan satu dengan lainnya. Pada satu kalimat dikatakan, bahwa dengan mengembangkan paham Pluralisme, maka tidak sampai mengganggu keimanannya. Tetapi pada kalimat berikutnya ditulis, bahwa implikasi sikap pluralisme tersebut bisa membuat iman seseorang berkurang.
Masalah Pluralisme Agama merupakan tantangan sangat serius bagi agama-agama yang ada, sehingga para tokoh agama dan cendekiawan agama-agama, baik dari kalangan Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan sebagainya, telah melakukan kajian yang serius tentang masalah ini.
Karena itu, kita sangat amat layak untuk bersedih hati menyimak pendapat seorang profesor doktor dari IAIN Sumatera Utara yang juga Dekan Fakultas Syariah itu tentang paham Pluralisme Agama.
Hasil penelitian di Kota Medan ini ditutup dengan rekomendasi peneliti Depag tersebut: “untuk kelompok yang mengembangkan pemikiran baru di Kota Medan ini alangkah baiknya kalau membentuk semacam lembaga, seperti JIL di Jakarta, LKIs di Yogyakarta, atau Paramadina, sehingga bisa disusun agenda diskusi, sehingga nantinya dapat menghasilkan produk pemikiran yang terdokumentasikan, sehingga bisa juga dinikmati orang lain. Kepada MUI agar berhati-hati mengeluarkan statemennya, agar tidak mematikan semangat berpikir yang tumbuh di kalangan generasi muda, yang sedang mekar-mekarnya.”
Berdasarkan rekomendasi penelitian di Kota Medan itu, kita memahami, bahwa si peneliti Depag itu sudah memiliki kerangka pikir liberal dan menganjurkan agar di Kota Medan juga dibentuk lembaga penyebar paham keagamaan liberal. Tentu saja, ini PR berat bagi Menteri Agama saat ini yang dikenal cukup kritis terhadap paham-paham liberalisme keagamaan.
Bahwa diantara anak buahnya, justru menganjurkan disebarkannya paham liberal. Bagi umat Islam, tentu ini musibah dan tantangan besar.
Kita lanjutkan menelaah hasil penelitian di Kota Yogyakarta, yang diberi judul “Faham Islam Liberal Masyarakat Kota Yogyakarta”. Menjelaskan sejumlah faham liberal, diantaranya tentang “Memaknai teks al-Quran dan al-Hadits secara liberal dengan mengutamakan semangat religio etik”, penelitian ini mencatat:
“Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melenggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam dinusantara ini hermeneutika makin digemari. Terhadap Al-Hadits tetap harus ada kritik terhadap perawi-perawi hadits, kritik terhadap hadits-hadits mutawatir, bahkan terhadap ideologi Islam. Menurut Zuly Qadir bahwa yang menjadi salah satu kunci dari penafsiran agama adalah tidak ada tafsir dan pemahaman absolut terhadap agama. Dalam menyikapi perbedaan, Islam Liberal tidak menjustifikasi benar atau salah.”
Membaca kutipan hasil penelitian itu, kita bisa melihat, bagaimana parahnya cara berpikir kaum liberal yang berkutat di sekitar UIN Yogya tersebut. Mereka tidak lagi menganggap Al-Quran sebagai wahyu suci. Mereka sudah menggeser ilmu tafsir dan mengganti dengan hermeneutika yang ujung-ujungnya menghasilkan pemahaman relativisme tafsir. Mereka juga tidak menentukan sikap terhadap yang benar dan yang salah.
Jika kita membaca pandangan mereka, berdasarkan hasil penelitian ini, maka sungguh kita amat sangat patut khawatir terhadap anak-anak kita yang sekarang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta dan dicekoki dengan paham-paham yang menggerus keyakinan Islam secara sistematis tersebut. Sampai-sampai antara yang benar dan yang salah pun sudah tidak bisa membedakan lagi.
Padahal, sebagai Muslim, kita diwajibkan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar: memperjuangkan yang benar dan melawan kemunkaran. Jika seorang yang masih mengaku Muslim tetapi sudah tidak mengakui kesucian Al-Quran, tidak mengakui kebenaran hadits mutawatir, tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, lalu, apa lagi yang tersisa dari sebuah makna keislaman?
Tentang masalah ‘kebebasan beragama’ dilaporkan dalam penelitian ini bahwa Islam Liberal berpendapat: “Semua agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama, memiliki tujuan dan mengabdi pada Tuhan yang sama, dan kebenaran itu ada pada semua agama… Mengklaim agama sendiri paling benar akan menempatkan seseorang pada sikap eksklusif partikular dan hanya akan menimbulkan disharmoni antar umat beragama.”
Juga ditulis dalam laporan ini, bahwa dalam masalah theologi, Islam Liberal berpendapat : ‘’Tuhan apapun yang disembah oleh umat, tidak menjadi masalah. Di sisi lain Tuhan tidak berhak menghukum manusia karena tidak menyembahnya (atheis), karena hal ini bukan wewenang Tuhan untuk mengatur manusia, karena sudah masuk dalam ruang privat.”
Dalam masalah ritual ditulis: “Manusia meyakini akan kebenaran adanya Tuhan. Karena kebenaran berada bukan pada satu keyakinan dan agama, maka cara untuk “menyapa” dan mendekatkan diri pada Tuhan juga mengalami keberagaman. Umat Islam memiliki ritual sendiri. Demikian pula Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan agama-agama lainnya. Yang terpenting adalah bahwa semua agama sama dan tujuan peribadatan agama-agama itu adalah satu tujuan, Tuhan Yang Satu.”
Tentang nikah beda agama, dicatat dalam penelitian ini: “Larangan nikah beda agama menurut Islam Liberal dipandang sudah tidak relevan lagi, karena sesuai dengan tuntunan Al-Quran bahwa Al-Quran mnganut pandangan universal tentang martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama.”
Salah satu kesimpulan dari penelitian di Yogya ini menyatakan:
‘’Arus perkembangan pemikiran Islam Liberal di Kota Yogyakarta bermula dari Kampus IAIN Sunan Kalijaga (kini UIN Sunan Kalijaga) pada dekade tahun 1980-an oleh para dosen dan akademisi kampus melalui kajian-kajian keislaman yang diikuti oleh para mahasiswa. Materi hermeneutika dan pemikiran orientalis barat sudah menjadi kajian resmi di UIN Sunan Kalijaga. Hermeneutika dianggap sebagai sebuah kebenaran yang harus disampaikan kepada umat.’’
Itulah beberapa contoh hasil penelitian Departemen Agama tentang faham liberal keagamaan di Yogyakarta. Membaca paham yang dikembangkan oleh mereka yang berpaham liberal tersebut, kita berharap, semoga kita tidak termasuk bagian dari mereka. Mudah-mudahan umat Islam diselamatkan dari fitnah yang disebarkan oleh mereka. Sebab, tentulah musibah besar, jika dari kampus yang berlabel Islam dan bernaung di bawah Departemen Agama justru lahir dan disebarkan paham-paham yang secara jelas sangat destruktif terhadap aqidah dan syariat Islam.
Jika ada yang menyatakan semua agama sama, semua manusia boleh menyembah tuhan apa saja, boleh melakukan ritual dengan cara apa saja, maka apa yang masih bisa kita komentari dari pernyataan yang amat sangat bodoh dan keterlaluan dalam melecehkan Allah itu ? Untuk menghadap kepala sekolah saja ada aturannya. Untuk menemui George Bush pun ada aturannya. Lalu, kaum Liberal mengatakan, untuk menghadap Allah boleh dan sah dengan menggunakan cara apa saja! Bukankah ini sangat keterlaluan?
Tapi itulah mereka. Kita tentu tidak setuju dengan pendapat itu. Kita meyakini, Allah telah mengutus utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw, untuk menjelaskan kepada kita, siapa Allah sebenarnya, sifat-sifat dan nama-Nya, dan juga bagaimana cara kita menyembah Allah SWT dengan benar.
Maka, jika seseorang tidak mengimani kenabian Muhammad saw, sangatlah mustahil dia dapat mengenal dan menyembah Allah dengan benar. Karena itulah, syahadat adalah rukun islam yang pertama dan pintu gerbang untuk masuk Islam.
Maka, membaca hasil penelitian Depag ini, kita semakin jelas melihat, di mana sebenarnya posisi Islam Liberal! Tentu kita berharap, Depag akan sangat serius menangani masalah ini. Apalagi, jika gagasan itu disebarkan oleh lembaga atau pegawai-pegawai yang ada di bawah naungannya.

Pada Senin (20 November 2006), saya mengisi acara ceramah dan diskusi tentang Islam Liberal di Pesantren Maskumambang Gresik, Jawa Timur. Sore hari, acara dikhususkan untuk para ustad dan tokoh masyarakat Gresik dan sekitarnya. Saat itu, hadir lebih dari 200 orang. Malam harinya, acara dilakukan dalam bentuk pengajian umum di lapangan terbuka, yang dihadiri ribuan masyarakat dari daerah Gresik dan Lamongan. Bahkan, banyak jamaah dari jauh yang datang dengan kendaraan truk.
Saya terkejut menyaksikan besarnya minat masyarakat Gresik untuk mendengarkan pemaparan tentang Islam Liberal. Menurut pimpinan pesantren, hal itu disebabkan masalah paham liberal keagamaan – yang lebih populer dengan sebutan ‘Islam Liberal’ – sudah disebarkan sampai ke pelosok-pelosok kampung dan perguruan tinggi Islam. Pesantren pun terkena getahnya, karena ada alumninya yang terkena virus liberal ketika kuliah di perguruan tinggi tertentu.
Di samping itu, pesantren Maskumambang memang pesantren tua yang memiliki tradisi ilmu yang cukup baik dan memiliki ribuan alumni yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Pesantren ini dipimpin oleh seorang kyai cerdas dan kharismatis bernama KH Nadjih Ahjat (71 tahun), yang kini juga duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Disamping mengajar dan berceramah, Kyai Nadjih Ahjat juga seorang penulis buku yang handal dan penerjemah sejumlah kitab berbahasa Arab. Saya sudah mengenal nama Kyai Nadjih sejak duduk di bangku SMAN 2 Bojonegoro, sekitar tahun 1981. Salah satu bukunya yang berjudul ‘Iman Jalan Menuju Hidup Sukses’, merupakan salah satu buku bacaan favorit saya.
Buku ini memberikan dorongan semangat yang tinggi agar seorang muslim dapat meraih prestasi-prestasi besar dalam kehidupan dengan tetap berpegang dasar iman yang kuat.
Kepada ribuan masyarakat muslim itulah, saya membacakan hasil penelitian Litbang Departemen Agama tentang apa itu paham Islam Liberal, yang sebagian telah kita ungkapkan pada catatan yang lalu. Salah satu yang membuat mereka takjub adalah pendapat bahwa umat boleh menyembah Tuhan apa saja, dengan cara apa saja, dan juga pandangan bahwa Al-Quran bukan lagi dianggap wahyu yang suci, tetapi merupakan produk budaya.
Tentulah masyarakat Jawa Timur masih mengingat peristiwa yang menghebohkan yang terjadi di IAIN Surabaya bulan Mei lalu, ketika seorang dosennya menginjak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri, dengan alasan bahwa tulisan itu tidak suci. Si dosen juga berpendapat, bahwa Al-Quran adalah produk budaya dan tulisannya tidak suci. Kepada masyarakat yang hadir saya menjelaskan, bahwa cara pikir liberal itu memang sudah diajarkan di sejumlah perguruan tinggi Islam.
Dan tentu saja, cara pikir seperti itu adalah sesuatu yang sangat keliru. Sesuatu tulisan, karena merupakan simbol dari Yang Maha Suci, maka tulisan itu menjadi suci.
Jangankan tulisan yang menjadi simbol nama Allah, tulisan yang menjadi simbol nama Presiden saja akan berbeda nilainya dengan tulisan yang menjadi simbol nama kecoa atau tikus. Cobalah kaum liberal yang menyatakan tulisan Allah dan Al-Quran tidak suci itu datang kepada Presiden SBY. Di depan Presiden, tulislah namanya pada secarik kertas, kemudian injaklah tulisan itu dengan kaki, dengan mata sedikit membelalak, sebagaimana dilakukan oleh dosen IAIN Surabaya ketika menginjak lafaz Allah. Normalnya, Presiden SBY pasti tersinggung dan marah dengan tindakan yang melecehkan namanya itu. Bagaimana dengan Allah, jika nama-Nya dengan sengaja diinjak oleh manusia? Bukankah sangat wajar jika Allah murka jika nama-Nya saja diinjak oleh makhluk-Nya?! Dalam soal keimanan dan peribadahan, Allah sudah mengutus Rasul-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw, untuk mengenalkan nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan bagaimana cara menyembah-Nya yang benar. Maka, sebagai kaum Muslim, kita tidak melakukan ibadah secara sembarangan, melainkan harus berdasarkan petunjuk dan contoh dari Rasulullah saw. Kita tidak shalat secara sembarangan. Kita takbir, membaca al-Fatihah, ruku’, I’tidal, sujud, salam, dan sebagainya, sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh utusan Allah. Para ulama tidak mengarang tata cara ibadah dalam Islam. Mereka hanya merumuskan apa-apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Tetapi, anehnya, kaum liberal lalu berteriak, “Boleh menyembah tuhan apa saja, dan boleh menyembah Tuhan dengan cara apa saja. Semua benar. Tidak ada yang salah!.
Tentu saja pendapat kaum liberal yang masih mengaku Islam ini sangat ajaib dalam pandangan Islam. Tetapi, yang memprihatinkan kita, sejumlah peneliti Litbang Departemen Agama, malah memberikan dukungan kepada paham liberal, dan menyudutkan kaum Muslim yang tidak mau mengikuti paham liberal tersebut. Kaum Muslim yang tidak liberal diberi cap-cap dan julukan-julukan yang melecehkan atau menyudutkan, seperti cap Muslim fundamentalis, muslim konservatif, muslim kerdil, dan sebagainya.
Misalnya, peneliti Depag yang meneliti paham keagamaan liberal di lingkungan UIN Jakarta, menulis:
“Gagasan-gagasan keislaman liberal tentunya sangat berbeda dengan pemahaman keislaman kaum fundamentalis sehingga menimbulkan forum permusuhan antara kalangan fundamentalis dengan liberal ketika duduk satu meja pada forum-forum diskusi yang melibatkan kedua pihak.”
Peneliti yang melakukan penelitian di lingkungan IAIN Surabaya juga menulis kesimpulan:
“Di Surabaya, akademisi dan tokoh-tokoh keagamaan secara substansial banyak mendukung pemikiran Islam Liberal, meskipun menolak istilah liberal pada dirinya. Istilah liberal, sebaiknya tidak usah digunakan dalam pergulatan wacana keagamaan, sehingga tidak ada klaim-klaim yang membingungkan. Konflik pemikiran antara kalangan Muslim “liberal” yang menurut saya adalah Islam “rasional” dengan kalangan muslim “kerdil” yang menurut saya adalah Islam “irrasional” mungkin harus dipahami sebagai konflik pemikiran biasa, karena dengan itu akan lahir dinamika keagamaan yang sehat, yang penting tidak ada konflik fisik.”
Peneliti faham liberal di lingkungan IAIN Sumatera Utara menulis dalam laporannya: “Faham yang seringkali bertentangan dengan faham liberal adalah doktrin konservatif yang secara sederhana menyatakan dukungannya terhadap pemeliharaan status quo.” Cara penamaan dikotomis ini memang bagian dari strategi untuk mengkampanyekan paham liberal dalam Islam. Sama dengan cara George W. Bush dalam memerangi terorisme dengan mengatakan: “either you are with us or with the terrorists”; ikut AS atau ikut teroris; menjadi liberal atau menjadi muslim kerdil, radikal, militan, dan sebagainya.
Penggunaan istilah dikotomis ini seringkali menjebak. Sampai ada peneliti Depag yang tampaknya tidak mendukung paham Islam Liberal pun ikut-ikutan membuat istilah dikotomis dalam laporan penelitiannya. Ia menulis dalam laporan penelitian di Makassar:
“Pemikiran keagamaan yang diungkapkan oleh mereka yang mengaku dirinya berpaham liberal banyak mendapat tanggapan negatif dari kelompok konservatif. Puncaknya dengan dikeluarkannya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2005 yang menolak paham liberal, agaknya menjadi sinyal bahwa ada wacana seputar agama di Indonesia yang problematis.”
Dari berbagai contoh tersebut kita bisa melihat, bagaimana kuatnya cengkeraman pola pikir dikotomis yang dikembangkan para ilmuwan Barat dalam memandang fenomena pemikiran keagamaan. Istilah-istilah yang berasal dari fenonema masyarakat Kristen di Barat kemudian dipaksakan masuk ke dalam khazanah keilmuan dalam studi keislaman. Sangatlah tidak mudah menjebol hegemoni penggunaan istilah-istilah Barat dalam pemikiran dan studi Islam yang sudah terlanjur mencengkeram otak para profesor, doktor, dan peneliti di kalangan akademisi Muslim dewasa ini.
Tentu saja kita tidak apriori dengan penggunaan istilah-istilah asing, dari mana pun datangnya, asalkan itu tidak bertentangan dan tidak merusak konsep-konsep dasar dalam Islam. Sebagaimana beberapa kali kita catat, penggunaan istilah-istilah ‘fundamentalis’, ‘radikal’, ‘militan’, dalam tradisi Kristen-Yahudi sangat tidak sesuai jika diaplikasikan untuk Islam. Sama halnya, kita juga tidak bisa secara sembarangan menggunakan istilah-istilah Islam untuk kaum Kristen-Yahudi.
Misalnya, dalam khazanah Islam, seorang Muslim yang beriman, bertaqwa kepada Allah dan beramal shalih, kita sebut termasuk dari Muslimin yang muttaqin dan shalihin. Maka, kita tidak patut menyebut George W. Bush – yang dikenal fanatik terhadap agama Kristen – sebagai seorang Nasrani yang termasuk orang-orang yang shalihin dan muttaqin. Andaikan George W. Bush mati dalam Perang di Iraq, tidak patut kita sebut ia telah ‘mati syahid’.
Karena itulah, setiap ilmuwan Muslim seyogyanya berhati-hati dalam mengambil istilah dari Yahudi, Kristen, Barat, atau dari mana saja. Seorang ilmuwan Muslim harusnya tidak latah dalam menjiplak istilah dari agama atau peradaban lain. Misalnya, karena banyak kaum Kristen dan Yahudi sudah menjadi sekular dan mendukung negara sekular, lalu dengan latah menyatakan, bahwa kaum Muslim juga harus menjadi sekular dan mendukung negara sekular, sebagaimana kaum Kristen dan Yahudi. Pikiran seperti ini terlalu sederhana dan tidak berpikir panjang, bahwa ada banyak perbedaan yang mendasar antara karakteristik agama Islam dengan ajaran Kristen/Yahudi.
Akibat pikiran sederhana itu, maka Islam harus dirombak habis-habisan, disekularkan, diliberalkan. Aqidah Islam harus dibongkar dengan paham Pluralisme Agama. Syariah Islam harus dibubarkan dan diganti dengan hukum-hukum sekular. Dengan konsep negara sekular, maka pemerintah tidak boleh membatasi agama yang diakui. Semua agama harus diperlakukan sama.
Padahal, AS dan negara-negara Barat lain pun juga tidak memperlakukan kaum Islam sama dengan Kristen! Sebagai Muslim, seharusnya kita menghindarkan kelatahan-kelatahan dalam mengikuti tradisi Yahudi dan Kristen.
Sekularisasi dan liberalisasi sendiri telah merepotkan banyak kaum Kristen, dan kini dijejalkan kepada kaum Muslim, dengan dukungan dana besar-besaran dari negara-negara Barat. Dari hasil penelitian Depag itu kita bisa melihat, bagaimana kuatnya cengkeraman paham liberal itu di lingkungan perguruan tinggi dan institusi Islam. Institusi yang diharapkan menjaga dan mengembangkan Islam sudah terasuki paham-paham liberal yang jelas-jelas meruntuhkan bangunan aqidah dan syariah Islam.
Bahkan, dari hasil penelitian di lingkungan UIN Jakarta, diteliti tentang satu organisasi mahasiswa UIN Jakarta (Formaci) yang berpaham liberal yang pernah menolak kewajiban jilbab di UIN, mendukung sekularisasi, menolak penerapan syariat Islam di berbagai daerah, dan mendukung perkawinan beda agama. Dengan berpegang kepada paham kebebasan berpikir dan atas dasar kemanusiaan, anggota Formaci sering menjadi saksi pernikahan beda agama. Ditulis dalam laporan penelitian ini:
“Seseorang yang sudah pacaran 5 tahun kemudian mau menikah terhalang oleh perbedaan agama, memberi arti bahwa agama hanyalah sebagai penghalang bagi terlaksananya niat baik dua insan untuk membangun rumah tangga.”
Berbeda dengan organisasi-organisasi Islam lainnya, sistem kepengurusan dalam Formaci dipilih melalui rapat umum anggota yang disebut dengan ‘konsili’ –satu istilah yang biasa digunakan dalam tradisi Katolik dimana para uskup dan tokoh Gereja berkumpul untuk memutuskan masalah-masalah dan doktrin penting dalam Gereja Katolik. Entah mengapa dan dengan tujuan apa istilah itu diambil oleh Formaci, bukannya menggunakan istilah-istilah munas, mukernas, kongres, muktamar, dan sebagainya.
Demikianlah realitas tentang perkembangan liberalisme keagamaan sebagaimana hasil penelitian Litbang Departemen Agama. Penelitian ini telah membuka mata kita lebih jauh tentang fenomena liberalisasi Islam di Indonesia. Semoga umat Islam Indonesia dapat mengambil hikmah dari hasil penelitian ini dan menyiapkan diri lebih baik lagi dalam bidang keilmuan untuk mencegah berkembangnya paham yang jelas-jelas merusak agama Islam ini. Wallahu a’lam. [Depok, 24 November 2006/www.hidayatullah.com].

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s